BMKG Dampingi Petani Gunungkidul Terapkan ‘Ilmu Titen’

Editor: KRjogja/Gus

WONOSARI, KRJOGJA.com – Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jakarta, Prof Ir Dwi Korita Karnawati MSc PHd mengungkapkan, cuaca yang terjadi di Indonesia sangat kompleks. Hal ini karena Indonesia terletak antara 2 benua dan 2 samudera besar.

Meskipun sekarang berada di musim kemarau, tetapi masih ada hujan dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter. Cuaca di Indonesia sejak 30 tahun terakhir terus mengalami peningkatan suhu 1 derajat. “ Tekanan udara di Benua Australia yang lebih tinggi dari Indonesia menyebabkan terjadinya aliran udara Australia menuju Indonesia dari April sampai September. Angin tersebut kering dan dingin, sehingga meski kemarau terjadi curah hujan turun akibat angin muson Australia,” kata Prof Dwikorita usai pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Operasional di Rest Area Gubuk Gede, Ngalang, Gedangsari, Senin (24/08/2020).

Kegiatan dihadiri Bupati Gunungkidul Hj Badingah Ssos, Koorinator BMKG Yogyakarta Agus Riyanto, Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Reni Kraningtyas SP MSi, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Ir Bambang Wisnubroto, Muspika, perangkat kalurahan dan kelompok Tani Sumber Rejeki Buyutan, Ngalang.
Diungkapkan, melalui SLI ini BMKG melakukan pendampingi bagi para petani. Biasanya menerapkan ‘ilmu titen’, karena terjadi perubahan iklim global perlu pendampingan. Sehingga nantinya akan tepat dalam menentukan musim. “Karena dengan ilmu prakiraan cuaca, gejala akan hujan lebat atau kekeringan bisa diketahui. Melalui pendampingan dapat diketahui enam hari lagi disini akan hujan atau justru kering,” imbuhnya.

Bupati Gunungkidul Hj Badingah Ssos memberikan apresiasi kepada BMKG yang menggelar SLI Operasional karena dengan memanfaatkan iklim dan cuaca masyarakat dan petani akan mengetahui usaha meningkatkan produktifitas tanam. Awalnya petani yang memiliki ‘ilmu titen’ harus didampingi, agar bisa meningkatkan produksi lahan pertanian. “ Harapannya bisa dikembangkan tidak hanya di Gedangsari. Karena sebanyak 70 persen penduduk di Gunungkidul ini merupakan petani,” imbuhnya. (Ded)

 

BERITA REKOMENDASI