Desa Wisata Bleberan Gunungkidul, Keunikan yang Berbeda

Editor: Agus Sigit

Oleh : An Nuur Khairun Nisa

BLEBERAN merupakan desa yang berada di Kapanewon Playen Kabupaten Gunungkidul, DIY. Desa ini berjarak sekitar 25 km dari pusat Kota Yogyakarta. Akses menuju desa ini terbilang cukup mudah, jalanan yang ditempuh sudah bagus.

Dari Kota Yogyakarta bisa bergerak menuju ke arah Piyungan, lalu menuju Patuk, Gading, hingga sampai ke Desa Wisata Bleberan. Desa wisata ini sudah dibentuk sejak tahun 2007. Dengan latar belakang memberdayakan potensi kawasan desa berupa pengelolaan sumber mata air untuk dialirkan ke seluruh wilayah Desa Bleberan yang dahulu sempat mengalami krisis air. Sejak saat itu Desa Bleberan terus mengembangkan potensi wisata di kawasan tersebut.
Ketua Desa Wisata Bleberan, Tri Harjono, menunjukkan penghargaan dari Kemendes PDTT. Foto: Usman Hadi

Setiap desa wisata memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Salah satu daya tarik tersebut adalah desa wisata terbaik pilihan Kementerian Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) pada tahun 2017. Desa wisata ini meraih penghargaan kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Di desa ini terdapat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang mampu memanfaatkan teknologi pengelolaan air bersih dan meningkatkan perekonomian masyarakat serta penyumbang Pendapatan Asli Daerah Gunung Kidul.

Tak seperti desa di Gunungkidul lainnya yang memberi daya tarik pantai, Desa Bleberan memiliki keunikan berbeda. Desa ini cukup beruntung, karena dianugerahi potensi alam yang luar biasa berupa Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang Kencono. Animo pengunjung sangat tinggi dibuktikan dengan kedatangan wisatawan yang selalu ramai. Air Terjun Sri Gethuk dengan ketinggian kurang lebih 25 meter sekaligus menjadi air terjun tertinggi di wilayah ini. Setiap liburan wisatawan ramai memadati kawasan ini untuk berlibur. Sedangkan Goa Rancang Kencono, sesuai Namanya, berupa goa dengan pemandangan yang indah serta memiliki nilai historis khusus.

 


Air Terjun Sri Gethuk. Foto: An Nuur Khairune Nisa

Mungkin yang terlintas di kepala kita setelah mendengan destinasi ini adalah makan dari singkong yang biasa kita sebut ‘gethuk’. Namun, nama ini diambil dariseperangkat jenis gamelan jawa yaitu ‘Kethuk’, untuk memudahkan dipanggil Gethuk. Konon, di sekitar air terjun terdapat kerajaan lelembut yang pada saat tertentu terdengar suara gamelan yang sangat nyaring dari kerajaan ini.
Suatu saat terdapat keributan karena salah satu gamelannya hilang. Gamelan yang hilang itu adalah Kethuk, maka terbitlah nama Sri Kethuk yang kemudian seiring berjalannya waktu berubah sebutan menjadi Sri Gethuk. Lokasi ini menjadi daya tarik utama Pemdes Bleberan dan sudah dikelola sejak tahun 2007.

Tak jauh dari lokasi air terjun terdapat goa purba yang dibuktikan dengan berbagai penemuan arkeologis seperti peninggalan artefak batu dan tulang. Namun nama Rancang Kencono yang disematkan pada goa ini, mulanya didasari pada fungsinya yang menjadi lokasi persembunyian dan pertemuan Laskar Mataram saat menyusun rencana untuk mengusir Belanda dari Yogyakarta. Goa ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian depan yang terluas, bagian tengah yang biasa dijadikan tempat bertapa dan bagian paling dalam yang dahulu dijadikan tempat menyusun strategi. Nama yang disematkan itu, memiliki arti tempat yang digunakan untuk menyusun strategi demi tujuan yang mulia.
Air Terjun Sri Gethuk. Foto: An Nuur Khairune Nisa

Dua destinasi tersebut dapat dikunjungi secara bersamaan karena letaknya berdekatan. Untuk tiket masuk pun sama, yakni hanya Rp 15.000 saja kita sudah bisa mengunjungi dua destinasi wisata yang historis tersebut. Selain menikmati keindahan alam dan sejarah, ada pula kegiatan lain yang dapat dilakukan. Sebab, objek wisata Sri Gethuk juga tersedia body rafting yang sangat seru dengan hanya Rp20.000 saja. Selain itu, ada pula flying fox dengan ongkos Rp 35.000. Kita sudah bisa naik perahu dan berseluncur dengan flying fox yang sangat menyenangkan.
Menilik kekayaan alam Desa Bleberan yang kaya keindahan dan nilai sejarah tersebut, tak salah bila desa wisata ini menjadi potensi yang sangat tinggi di DIY untuk terus dikembangkan. Namun, ada beberapa peluang pengembangan yang belum optimal dikarenakan keterbatasan SDM dalam pengelolaan, seperti kegiatan outbond, situs purbakala dan wisata pertanian. Dengan prestasi dan keindahan alam yang diraih dan dimiliki desa ini, diharapkan memberi dampak positif pengembangan ekonomi kreatif di wilayah setempat dan daetah Gunungkidul dan sekitarnya.

Penulis adalah Juara II Kategori Desa Wisata Bleberan Playen Gunungkidul

BERITA REKOMENDASI