Dewan Minta Pemkab Serius Tangani Antraks

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Kalangan DPRD menilai Pemkab Kabupaten Gunungkidul tidak serius menangani kasus antraks yang terjadi selama ini. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin banyaknya ternak milik para petani yang mati, tetapi kurang direspons dan ditindaklanjuti secara tuntas.

Meskipun rentetan kejadian yang sangat memukul peternak maupun petani dan telah menimbulkan multi efek termasuk dampak ekonomi dan trauma psikologis terlihat kurang ‘greget’. ”Perlu penanganan proporsional cepat dan efektif agar penyakit antraks dapat ditanggulangi,” kata Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul, Drs Supriyadi.

Baca juga :

Virus Korona, Bandara Adisutjipto Dirikan 'Crisis Center'
Produksi Tanaman Pangan Hampir Capai Target

Serangan bakteri antraks sejumlah hewan ternak baik sapi maupun kambing ini telah berlangsung sejak akhir Desember 2019 silam. Untuk pencegahan dengan vaksin seharusnya dilakukan serentak jangan hanya di wilayah tertentu yang dinyatakan sebagai endemi untuk mencegah penyakit tersebut tidak meluas. Jika ada kendala anggaran, seharusnya bisa dicarikan solusi.

Dari kementerian kesehatan sudah nyata-nyata serangan antraks di Gunungkidul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) seharusnya segera mengambil langkah-langkah konkret. ”Saatnya pemkab tidak terpaku salah satu program, jika tidak ada kemajuan seharusnya mengambil terobosan yang tuntas untuk mengantisipasi antraks tidak semakin meluas,” ucapnya.

Terus Bertambah Perkembangan terbaru antraks di Gunungkidul jumlah warga yang positif terpapar antraks terus bertambah dan data terakhir Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat terakumulasi sedikitnya ada 30 orang.

Korban terakhir sebanyak 3 orang sebagai warga Semin, semanu dan Kecamatan Saptosari. Dari jumlah tersebut, terbanyak penderita terserang di bagian kulit. "Dengan hasil tersebut dimungkinkan serangan antraks tidak hanya terjadi di Ponjong, tetapi diduga sudah meluas di kecamatan lain, " kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Gunungkidul, Kelik Yuniantoro.

Sebelumnya, mengacu dari hasil pemeriksaan laboratorium, di Gunungkidul terdapat 27 orang positif terjangkit antraks. Namun kemudian dalam perkembangannya, jumlah korban kemudian bertambah lagi 3 orang. Dengan bertambahnya penderita ini cukup mengejutkan lantaran lokasinya meluas dan tidak hanya terjadi di Kecamatan Ponjong yang semula dinyatakan daerah endemi.

Terkait bertambahnya jumlah penderita ini dari Dinas Kesehatan melaporkan agar segera dilakukan langkah-langkah antisipasi. Dari laporan itu kini tengah dilakukan penelusuran riwayat yang bersangkutan bisa terkena antraks.

"Untuk yang positif dari warga Semin, karena banyak berinteraksi dengan sapi karena profesinya sebagai pekerja di usaha jagal (pemotongan hewan),” ucapnya.

Dari penelusuran sementara untuk warga Saptosari dan Semanu yang dinyatakan positif terkena antraks berprofesi sebagai petani. Pemkab Gunungkidul menduga, mereka yang terpapar bakteri Bacilus Anthracis tersebut terjadi saat mereka mengelola pupuk kandang untuk bahan pertanian. Saat ini, Dinas Kesehatan Gunungkidul telah menangani para korban yang terpapar antraks tersebut yang sebagian besar kondisi kesehatannya semakin membaik. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI