Disperindag Sleman Kurangi Impor, Ini Sebabnya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman tidak dapat melakukan intervensi terkait jatuhnya harga ayam di tingkat peternak. Pasalnya kondisi ini sudah murni mekanisme pasar. Dimana stok barang melimpah, namun permintaan turun.

Hal tersebut dijelaskan Kepala Disperindag Sleman Tri Endah Yitnani, Kamis (27/6). Dari pemerintah sesuai tugasnya yang berkaitan dengan distribusi barang, hanya sebatas mengikuti. Tapi tidak bisa intervensi.

"Kami sudah berkomunikasi dengan propinsi dan Kementrian Perdagangan (Kemendag). Ada kesepakatan dengan penyetor Day Old Chicken (DOC) untuk mengurangi impor. Selanjutnya diterbitkan Surat Edaran (SE) dari kementerian. Jadi sifatnya intervensi hanya SE, karena ini sudah sepenuhnya mekanisme pasar," jelas Endah.

Disisi lain, selera masyarakat untuk mengkonsumsi ayam broiler saat ini juga mulai berkurang. Kecuali untuk industri kuliner. Sedangkan untuk konsumsi rumah tangga mulai berkurang. Masyarakat, cenderung memilih ke ayam kampung dibandingkan ayam broiler.

Kondisi otomatis berimbas ke pasar. Karena produksinya jalan terus, sedangkan permintaannya berkurang. Jadi tidak seimbang. Adanya perubahan selera masyarakat ini menurut Endah harusnya segera disikapi oleh produsen dan importir. "alah satunya dengan mengurangi jumlah ayam yang diternakkan. Atau disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat," imbuhnya.

Pasalnya menurut Endah, harga daging ayam di pasar juga relatif stabil. Antara Rp 25 ribu hingga Rp 26 ribu perkilogram. Rendahnya harga hanya terjadi di tingkat kandang, dimana satu kilogram ayam hanya dihargai maksimal Rp 8.000 perkilogram.

Saat ini kebutuhan ayam di Kabupaten Sleman sudah bisa dicukupi dari dalam. Hanya sebagian kecil saja yang harus mendatangkan dari tempat lain. Sedangkan rata-rata kebutuhan ayam perhari adalah 300 kuintal. Karena di Sleman juga banyak penyedia jasa kuliner, hotel dan kos-kosan. (Awh)

 

BERITA REKOMENDASI