Fokus Wilayah Perbatasan, Hewan Mati Mendadak Terus Meluas

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul masih terus melakukan pemantauan di sejumlah wilayah endemik antraks  dan  data sementara  diketahui  terdapat seorang warga  di Kecamatan Semin dinyatakan suspect  antraks. “Terkait adanya laporan  seorang  warga Semin  dinyatakan suspect  antraks, di  Kecamatan Semin kita sudah kirimkan petugas medis melakukan tindakan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul dr Dewi Irawaty MKes, Selasa (21/1/2020). 

Dari informasi yang diterima Dinkes Gunungkidul, warga yang diduga terpapar antraks tersebut mengalami gejala menyerupai anthraks  dan yang bersangkutan tersebut diketahui sebagai pekerja yang sehari-hari  melakukan pemotongan sapi (jagal). Sehingga  meskipun  belum diketahui  pasti positif terpapar antraks atau bukan dengan gejala  yang menyerupai anthraks tersebut dan ditemukan sejumlah luka yang identik  akan  diberikan terapi antibiotik. 

Hal itu dilakukan sebagai upaya antisipasi jika benar  memang positif  terkena bakteri antraks bisa diantisipasi.“Untuk meminimalisir risiko kerawanan antraks di Gunungkidul kami memerlukan  informasi sekecil apapun terkait anthraks akan  kita respons secepatnya,” ucapnya. 

Sementara mengenai perkembangan kondisi kesehatan terhadap  27 orang yang dinyatakan  positif antraks, mereka itu kini  sudah mulai  membaik dan dari Dinkes Gunungkidul masih melakukan terapi antibiotik dalam proses penyembuhannya.  Karena ke  27 orang yang positif  tersebut  sudah minum antibiotik selama 20 hari dan diharapnya setelah menjalani proses pegobatan akan kembali sehat. Terkait dengan penanganan  terhadap 27 orang yang positif antraks, pihaknya tidak akan melakukan isolasi. Dengan alasan penularan antraks tidak  bisa melalui manusia ke manusia lain, tetapi  dari hewan yang terpapar antraks ke manusia. Saat ini pihaknya  tetap melakukan pemantauan di Dusun  Ngrejek, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong selama 2 kali 60 hari. 
“Hasil pemeriksaan laboratorium antraks memang positif ada dank arena itu kita tangani serius,” ucapnya.

Sementara jumlah hewan mati mendadak kini meluas di wilayah perbatasan  yakni di Kecamatan Girisubo, Rongkop dan Kecamatan Patuk. Dalam sehari kemarin terdapat 4  ekor sapi milik  Ny Tugiyem (55)  warga Dusun  Salaran, Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk dan dua ekor sapi  milik Kasmo (50) warga Dusun  Tirisan, Pringombo,  Rongkop dan sapi milik Watino (50) warga Desa Pucung, Girisubo  mati mendadak Selasa (21/1/2020) kemarin.  

Berkaitan dengan ditemukannya kasus hewan mati mendadak, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul melakukan langkah-langkah penanggulangan diantaranya melakukan pengambilan sampel darah, maupun tanah sekitar habitat hewan yang mati, serta melakukan penguburan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) terhadap hewan ternak yang mati mendadak.  

Kepala  DPP  Gunungkidul  Ir Bambang Wisnu Broto menyatakan upaya pencegahan penyakit antraks terus dilakukan dan fokus pada Komunikasi, Informasi dan  Edukasi (KIE). Melakukan pembatasan pada arus lalu-lintas hewan, mengomtimalkan pos pengawasan hewan di perbatasan dan melakukan koordinasi  lintas propinsi dan kabupaten/kota  agar penyakit antraks bisa ditanggulangi.(Bmp)

BERITA REKOMENDASI