Gunungkidul kini Punya Perpustakaan Modern

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Kepala Perpustakaan Nasional RI meresmikan gedung fasilitas layanan perpustakaan yang modern Kabupaten Gunungkidul. Bangunan megah senilai Rp 10 miliar yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2021 sekaligus menjadi tanda keseriusan Pemkab Gunung Kidul meletakkan literasi sebagai elemen penting dalam menciptakan SDM yang unggul.

Kepala Perpusnas menyebutkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Presiden memfokuskan pada peningkatan dan perluasan akses terhadap sumber-sumber bahan bacaan untuk menciptakan SDM yang unggul, menguasai Iptek, memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi untuk penciptaan lapangan kerja, mengurangi angka pengangguran, serta menambah devisa negara.

“Karena faktanya, hanya 10 persen penduduk Indonesia yang bekerja dengan ijazah perguruan tinggi. Sisanya berlatar pendidikan SD-SMA. Maka, kami mendorong kepada setiap kepala daerah untuk memberikan mereka kecerdasan dengan buku-buku terapan agar tidak stagnan dalam kesejahteraan,” kata Muhammad Syarif Bando, dalam acara peresmian Layanan Perpustakaan Gunungkidul, Selasa (25/01/2022).

Sementara itu Bupati Gunungkidul, Sunaryanta, menguraikan gerakan literasi di Gunungkidul sudah semakin baik terutama dalam setahun terakhir. Sunaryanta mengakui di era globalisasi kita tidak boleh menutup diri. Makanya, kita terus mengembangkan berbagai program literasi.

“Dukungan Pemkab tidak sebatas anggaran. Kolaborasi dengan berbagai pihak tetap dilakukan termasuk dengan perguruan tinggi. Itu juga penting,” jelas Sunaryanta.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perpusnas mengukuhkan Diah Purwanti menjadi Bunda Literasi Gunungkidul dan penandatanganan MoU dengan Pemkab dan tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gunungkidul, dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yogyakarta, serta menyaksikan pengukuhan 18 Bunda Literasi Kecamatan se-Kabupaten Gunungkidul oleh Bunda Literasi Gunungkidul.

Sementara itu, Cendekiawan muda Yudi Latif mencontohkan, literasi di negara Brazil di Amerika Selatan yang pernah mendapati angka kriminalitas yang tinggi sehingga seluruh penjara kewalahan menampung para narapidana. Bahkan, tidak ada rasa jera bagi narapidana yang telah bebas. Mereka kembali melakukan aksi kejahatan dan kembali berujung di jeruji besi.

Dari situ kemudian timbul ide nyeleneh untuk melakukan eksperimen. Semua napi dibekali buku bacaan dan diminta melakukan resume buku setiap minggu. Timbal baliknya, napi yang berhasil menyelesaikan resume mendapatkan potongan masa tahanan. Begitu seterusnya sampai akhirnya mendapatkan kebebasan.

Ketika keluar sel, mereka justru mempraktekkan apa yang telah mereka baca di dalam masa tahanan. Pikiran mereka terbuka dan tidak lagi melakukan hal-hal buruk. Imbasnya, selama dua tahun ekseperimen berjalan kapasitas penjara mengalami penurunan drastis. “Penjara ternyata bisa menjadi guru kehidupan dan buku berhasil memberikan gagasan dan cara pandang baru mereka,” terang Yudi Latif.

Literasi, ditambahkan Yudi, menurut Ki Hajar Dewantara dikembangkan diatas tiga pilar, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Senada dengan Yudi Latif, anggota Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati, literasi masih menjadi pekerjaan rumah nasional. Pada 2019, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia di angka 52,67, sementara Indeks Pembangunan Pemuda di 2020 hanya 51,00. “Tidak ada peradaban tanpa literasi. Inilah kemudian menjadi parameter bagi setiap negara,” ujarnya. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI