Harus Profesional, Birokrat Dituntut Berwatak Satria Mataram

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, tema peringatan Hari Jadi ke-187 Kabupaten Gunungkidul Sengguh Tan Mingkuh memiliki makna semua pihak harus memiliki watak berani menghadapi dan mencari solusi tantangan kemajuan zaman.

Sengguh tidak sebatas percaya diri, tetapi juga untuk membangun jejaring menggalang persatuan bangsa. Tan mingkuh tidak malah tinggal glanggang colong playu, tetapi harus berani menghadapi jika ada benih-benih  intoleransi yang bisa merusak simbol negara Bhinneka Tunggal Ika yang juga bisa merusak Dasar Negara Pancasila di tengah kehidupan masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan Ngarsa Dalem Sultan HB X pada Resepsi Peringatan Hari Jadi ke-187 Kabupaten Gunungkidul di Bangsal Sewakapraja, Wonosari, Minggu (27/5/2018). Peringatan selain dihadiri Gubernur DIY juga bupati dan walikota se-DIY atau yang mewakili, Bupati Gunungkidul Hj Badingah SSos, Wakil Bupati Dr Immawan Wahyudi MH, anggota Forkopinda, Pimpinan dan Anggota DPRD Gunungkidul kepala OPD, pimpinan ormas dan tamu undangan lainnya.

Upacara diawali masuknya Bregada Abdi Dalem Kraton Yogyakarta yang membawa Pusaka Kabupaten Gunungkidul yang terdiri Pusaka Kanjeng Kiai Margo Salurung, Kiai Pandoyo Panjul dan Songsong Agung Kanjeng Kiai Robyong, dengan iringan Ladrang Gati Padasih. Sebagai ucapan selamat datang kepada Gubernur DIY, disajikan Beksan Komandan oleh para penari produksi Dinas Kebudayaan Gunungkidul.

Sultan HB X menyatakan, tan mingkuh juga harus menjadi semangat para pemimpin di Gunungkidul, yakni apa saja yang menjadi program dan anggaran bisa meneladani Senopati untuk kepentingan rakyat, guna memberantas kemiskinan juga untuk membangun angka rasio gini yang benar dan tepat, yang tentunya dimulai dari Gunungkidul ini.

Sultan minta agar semua aparatur birokrasi harus memiliki watak Satria Mataram, memiliki akal budi luhur, keteladanan, rela melayani, inovatif, yakin dan percaya diri, ahli dan profesional atau pemerintahan yang good governance.
Menurut Buku Peprentahan Praja Kejawen, kata Sultan, berdirinya Kadipaten Gunungkidul pada 1831 disebut daerah Goenoengkidoel wewengkon pereden wetan Kali Opak. Sedangkan saat ini Gunungkidul merupakan Bhumikarta yang sudah memiliki predikat Gunungsewu Global Geopark International yang dikembangkan untuk pariwisata dan budaya.

Sultan mengatakan, jajaran Pemkab Gunungkidul diharapkan bisa menghadapi berbagai tantangan ke depan yang semakin banyak, di balik kemajuan yang sudah dicapai. Karena itu, kemajuan bukan berarti permasalahan akan selesai. Namun bagaimana aspirasi, keinginan dan kebutuhan serta tantangan tersebut harus dilakukan sebaik-baiknya. Sehingga masyarakat akan mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya atas prestasi PNS maupun kemajuan pembangunan di Gunungkidul.

Sementara itu Bupati Gunungkidul Hj Badingah berharap seluruh birokrasi dan elemen masyarakat memiliki greget atas kekuatan sendiri untuk memajukan Gunungkidul.

Sesuai visi dan misi Pemda DIY untuk memberdayakan Samudera Hindia, Pemkab Gunungkidul sudah memulainya dengan memberdayakan Pesisir Selatan untuk pariwisata dan perikanan. "Seluruh OPD memiliki greget untuk melaksanakan program pariwisata," ujarnya.

Di sisi lain, Gunungkidul masih menghadapi berbagai permasalahan terutama mengatasi krisis air di musim kemarau, pelayanan pendidikan dan kesehatan masyarakat serta peningkatan sumber daya manusia para birokrasi. "Tahun ini di bidang budaya akan dibangun Taman Badaya. Pemkab Gunungkidul telah menyiapkan tanah seluas 2,6 hektare dan pembangunannya akan dimulai tahun ini. Juga pelabaran Jalan Ngalang-Gading dengan dibangun Jembatan Nguwot Gading," kata Badingah.

Bupati berharap dengan dibangunnya Bandara Internasional Yogyakarta Baru  (NYIA) di Kulonprogo, bisa mendongkrak pariwisata di Gunungkidul. (Awa/Ded)

BERITA REKOMENDASI