Hewan Mati Mendadak di Gunungkidul Terus Bertambah

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul masih terus melakukan pemantauan di sejumlah wilayah endemik antraks dan data sementara diketahui terdapat seorang warga di Kecamatan Semin dinyatakan suspect antraks.

“Terkait adanya laporan seorang warga Semin dinyatakan suspect antraks, di Kecamatan Semin kita sudah kirimkan petugas medis melakukan tindakan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul dr Dewi Irawaty MKes.

Baca juga :

Mengaku Prajurit Korem Pamungkas, Tentara Gadungan Tipu Janda
Grojokan Watu Purbo, Wisata Alternatif Bagi Goweser

Dari informasi yang diterima Dinkes Gunungkidul, warga yang diduga terpapar antraks tersebut mengalami gejala menyerupai antraks dan yang bersangkutan tersebut diketahui sebagai pekerja yang seharihari melakukan pemotongan sapi (jagal). Sehingga meskipun belum diketahui pasti positif terpapar antraks atau bukan dengan gejala yang menyerupai antraks tersebut dan ditemukan sejumlah luka yang identik akan diberikan terapi antibiotik.

Hal itu dilakukan sebagai upaya antisipasi jika benar memang positif terkena bakteri antraks bisa diantisipasi.”Untuk meminimalisir risiko kerawanan antraks di Gunungkidul kami memerlukan informasi sekecil apapun terkait antraks akan kita respons secepatnya,” ucapnya.

Sementara mengenai perkembangan kondisi kesehatan terhadap 27 orang yang dinyatakan positif antraks, mereka itu kini sudah mulai membaik dan dari Dinkes Gunungkidul masih melakukan terapi antibiotik dalam proses penyembuhannya. Karena ke 27 orang yang positif tersebut sudah minum antibiotik selama 20 hari dan diharapnya setelah menjalani proses pegobatan akan kembali sehat.

Terkait dengan penanganan terhadap 27 orang yang positif antraks, pihaknya tidak akan melakukan isolasi. Dengan alasan penularan antraks tidak bisa melalui manusia ke manusia lain, tetapi dari hewan yang terpapar antraks ke manusia.

Saat ini pihaknya tetap melakukan pemantauan di Dusun Ngrejek, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong selama 2 kali 60 hari. “Hasil pemeriksaan laboratorium antraks memang positif ada karena itu kita tangani serius,” ucapnya.

Wilayah Perbatasan Sementara jumlah hewan mati mendadak kini meluas di wilayah perbatasan yakni di Kecamatan Girisubo, Rongkop dan Kecamatan Patuk. Dalam sehari kemarin terdapat 4 ekor sapi milik Ny Tugiyem (55) warga Dusun Salaran, Desa Ngoro-oro, Kecamatan Patuk dan dua ekor sapi milik Kasmo (50) warga Dusun Tirisan, Pringombo, Rongkop dan sapi milik Watino (50) warga Desa Pucung, Girisubo mati mendadak Selasa (21/01/2020).

Berkaitan dengan ditemukannya kasus hewan mati mendadak, Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul melakukan langkah-langkah penanggulangan diantaranya melakukan pengambilan sampel darah, maupun tanah sekitar habitat hewan yang mati, serta melakukan penguburan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) terhadap hewan ternak yang mati mendadak. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI