Hewan Ternak Mati Mendadak di Gunungkidul Capai 100 Ekor

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gunungkidul, Kelik Yuniantoro menyatakan, berdasarkan data yang masuk jumlah sapi dan kambing mati mendadak sejak bulan Desember 2019 hingga awal Februari mencapai 100 ekor. Dari jumlah tersebut tercatat berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium diketahui sebanyak 6 ekor positif terpapar bakteri antraks dan telah menular kepada manusia.

Diluar kematian mendadak sebanyak 90 ekor sapi maupun kambing saat dilakukan pemeriksaan negatif antraks. ”Kebanyakan hewan ternak yang mati mendadak akibat keracunan, kurang gizi, larva lalat, radang rahim, demam, kembung dan kurang susu,” katanya.

Sejak Desember 2019 hingga akhir Januari 2020, para peternak di Gunungkidul dilanda rasa khawatir terkait dengan kejadian ternak mati mendadak. Mereka merasakan dampak psikologis menyusul adanya hasil pemeriksaan laboratorium tentang kematian hewan ternak di Desa Gombang Kecamatan Ponjong yang dari hasil pemeriksaan laboratorium akibat terpapar bakteri antraks.

Bahkan telah berdampak terjadinya penularan terhadap puluhan warga yang hingga kini masih dalam penanganan medis Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul. Terkait dengan hal ini Pemkab Gunungkidul sudah melakukan langkah-langkah yang hasilnya cukup positif.

”Kasus antraks berhasil ditanggulangi dan bisa dilihat kematian sapi di luar wilayah endemi dinyatakan negative antraks sedangkan di wilayah serangan sudah dilakukan pembatasan perdagangan ternak,” ucapnya.

Dari Desember Sementara untuk kematian hewan ternak dari Desember hingga saat ini untuk jenis sapi mati mendadak ada 78 ekor dan 25 kambing. Dari jumlah tersebut ada 6 ekor ternak yang positif antraks.

Adapun jenis hewan yang telah dicek lab tersebut terdiri dari 2 ekor sapi dan 3 ekor kambing milik warga Dusun Ngrejek Wetan, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong serta 1 sapi milik warga Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop. Dari total 100 ternak mati tersebut memang tidak semua diambil sampel untuk diuji laboratorium.

Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) hanya mengambil 9 ekor ternak mati mendadak untuk dijadikan sampel. Dari sejumlah kasus kematian hewan ternak tersebut kasus itu pula pemerintah kabupaten telah melakukan pemantauan lapangan untuk memastikan tidak adanya ternak mati mendadak yang dikonsumsi.

Semua ternak yang mati tersebut dipastikan telah dikubur dan saat ini kesadaran masyarakat telah meningkat. Ternak yang mati dilaporkan DPP dan dikubur tidak lagi dijualbelikan.

Saat ini pemerintah sedang melakukan vaksinasi ternak yang berada di zona kuning atau sekitar Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong. Sementara untuk zona merah di Padukuhan Ngrejek Wetan dan Kulon, sudah dilakukan vaksinasi.

Sedangkan terkait dengan wacana penutupan sementara pasar hewan, Kelik mengaku hal itu bukan penutupan namun diliburkan untuk dilakukan pembersihan. Pembersihan dilakukan dengan penyemprotan cairan formalin. ”Kita berharap langkah yang dilakukan pemkab berhasil mencegah meluasnya penyakit antraks,” terangnya. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI