Hujan Menghilang di Dlingo

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Hujan tidak turun dalam beberapa hari terakhir ini, lahan tanaman padi tadah hujan di wilayah Dlingo Bantul mengeras. Kondisi ini menyebabkan petani kesulitan melakukan penyiangan gulma yang tumbuh mengganggu pertumbuhan tanaman padi masih berumur rata-rata 3 pekan.

Kasi Produksi Pertanian Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (P2KP) Bantul, R Bimo Ari Wibowo didampingi Analis Data atau Mantri Tanam Kecamatan Dlingo, Miyono STp mengatakan memasuki musim penghujan 2019- 2020, petani di Dlingo dan sekitarnya sudah sejak awal Desember 2019 menanam padi di lahan tadah hujan dan saat ini mestinya sudah mulai proses penyiangan gulma. Tapi karena dalam sepekan terakhir ini tidak turun hujan, sehingga tanah lahan tadah hujan yang sudah ditanami padi menjadi mengering.

Baca juga :

Mengaku Prajurit Korem Pamungkas, Tentara Gadungan Tipu Janda
Grojokan Watu Purbo, Wisata Alternatif Bagi Goweser

"Sebenarnya tanaman padi di lahan tadah hujan masih bisa bertahan 20 hari, walaupun tidak ada air. Tapi jika tidak ada air selama 20 hari kedepan maka tanaman akan mengering," ungkapnya.

Dengan mengerasnya lahan tersebut, petani mendapatkan kesulitan membersihkan gulma atau rumput. Pekerjaan menyiangi yang biasanya hanya dalam waktu 1 hari dengan menggunakan tangan, tapi karena mengeras pekerjaan bisa menjadi 5 hari menggunakan arit. Kondisi ini tentu sangat merugikan petani baik dari segi waktu maupun tenaga.

Sementara air dari anak sungai yang sejak ada hujan sudah mengalir, kini mengering lagi. Sedangkan sebagian wilayah yang ada sumber air, petani melakukan pompanisasi untuk membantu mengairi tanaman padi lahan tadah hujan. (Jdm)

BERITA REKOMENDASI