Jembatan Jelok Putus, Warga Andalkan Perahu ‘Gethek’

Editor: KRjogja/Gus

GUNUNGKIDUL (KRjogja.com) – Putusnya Jembatan Jelo di Desa Beji, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta akibat diterjang banjir dampak Siklon Tropis Cempaka beberapa waktu lalu, masih menyisakan derita bagi warga Dusun Jelok, Desa Beji, Kecamatan Patuk dan warga Dusun Jelok, Desa Ngleri, Kecamatan Playen. Wilayah yang dikelilingi Sungai Oya itu sekarang menjadi terisolir.  Untuk keluar dusun, warga harus menggunakan perahu sampan yang disediakan warga setempat.

Jembatan Wonolagi yang terletak di sebelah Selatan Jembatan Jelok, juga hanyut dan menyebabkan warga Wonolagi Terisolir. Jembatan ini beberapa waktu lalu ada wacana untuk dilebarkan sekaligus dibangun jalur alternatif Patuk-Pengkok-Ngleri-Wonosari. "Kami berharap pembangunan jembatan dan jalur alternatif bisa direalisasikan," ujar Martiyo, warga Wonolagi Ngleri Playen.

Ketika KR memantau aktivitas warga, Rabu (13/12) pagi sekitar pukul 07.30 WIB, para pelajar, pegawai dan karyawan yang akan beraktivitas sudah berkumpul di tepi Sungai Oya sebelah Timur untuk menunggu giliran perahu sampan yang akan menyeberangkan mereka ke sebelah Barat sungai.

Sungai Oya yang lebarnya lebih dari 80 meter dengan kedalaman lebih dari 5 meter, hanya bisa diseberangi menggunakan perahu. Sungai yang sebelum bencana kelihatan bersih, kini tampak kumuh dan banyak sampah berupa batang bambu dan pepohonan berserakan karena tersangkut di aliran sungai.

Surti, seorang PNS warga Jelok Beji yang akan berangkat kerja ke Pleret Bantul menceritakan, ketika bencana terjadi, jembatan yang dulu dibangun atas swadaya masyarakat dan bantuan dari UGM puluhan tahun silam itu, sirna seketika setelah diterjang arus banjir. Wilayah yang berada sebelah Timur sungai pun menjadi terisolir, anak-anak sekolah terpaksa tidak bisa sekolah karena akses jembatan terputus.

Warga lantas berisinistif menyediakan perahu kayu untuk sarana penyeberangan terutama untuk pelajar. Warga yang mengoperasikan perahu ini tidak mematok tarif sekali penyeberangan, hanya suka rela penyeberang. "Bagi pelajar bisa memberi Rp 1.000 atau Rp 2.000, sementara untuk pegawai dan pekerja besarannya sukarela," kata Surti. (Awa)

BERITA REKOMENDASI