Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul Didominasi Lansia

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Kasus bunuh diri di Gunungkidul setiap tahunnya masih terjadi. Berdasarkan data Yayasan Inti Mata Jiwa (Imaji), mayoritas pelaku/korban merupakan lanjut usia (lansia) di atas 60 tahun (39 persen). Kemudian disusul usia muda 18 hingga 45 tahun (34 persen), dewasa 46-60 tahun (20 persen) dan ada di bawah 18 tahun (7 persen).

”Mencegah kasus bunuh diri diperlukan peran serta masyarakat. Ada lansia yang ditinggal suami merantau. Atau mungkin lansia yang tinggal hidup sendiri. Perlu untuk diperhatikan dan selalu terjalin komunikasi di masyarakat,” kata Sigit Purnomo.

Diungkapkan, manusia merupakan makhluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri, sehingga diperlukan teman untuk saling berinteraksi. Sedangkan untuk mencegah terjadinya bunuh diri harus terbentuk jiwa yang sehat.

Hal tersebut di antaranya dapat menyesuaikan diri pada kenyataan, memperoleh kepuasan dari hasil perjuangan. Merasa lebih puas memberi daripada menerima. Dapat menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pelajaran di kemudian hari.

”Selain itu juga dapat berhubungan dengan orang lain secara tolong-menolong. Serta mempunyai rasa kasih sayang yang besar,” imbuhnya.

Sementara Sukandar juga dari Imaji mengungkapkan, masyarakat harus bisa mencegah terjadinya depresi. Sehingga perlu untuk mencermati tanda-tandanya meliputi murung sepanjang waktu, kehilangan minat hingga mudah lelah.

Masyarakat yang mengetahui salah satu warga terlihat hal tersebut perlu untuk bertindak. Mencegah maupun memberikan laporan kepada perangkat desa maupun petugas kesehatan. Sehingga bisa diupayakan untuk pencegahan kasus bunuh diri.

”Karena rata-rata dalam satu tahun di Gunungkidul ini terjadi 30 kasus bunuh diri. Imaji yang merupakan lembaga swadaya masyarakat akan fokus dalam upaya preventif dan promoting kesehatan jiwa masyarakat. Melalui edukasi kesehatan jiwa. Sehingga dapat ikut berperan dalam mencegah kasus bunuh diri di Gunungkidul,” jelasnya. (Ded)

BERITA REKOMENDASI