Kekeringan Landa Tanjungsari dan Girisubo

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Warga Kapanewon Tanjungsari dan Girisubo Kabupaten Gunungkidul mulai kesulitan air bersih.Warga membeli air untuk kebutuhan minum dan mencuci. Bahkan ada yang membeli air untuk mencabut tanaman kacang tanah. Harga satu tangki aior bersih saat ini cukup mahal antara Rp 150 ribu hingga Rp 160 ribu.

”Ketersediaan air yang ditampung di bak penampungan air hujan sudah menipis” kata Panewu Tanjungsari, Rakhmadian Wijayanto.

Berdasarkan nformasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY memprediksi wilayah Kabupaten Gunungkidul akan memasuki musim kemarau pada Mei atau minggu akhir bulan Mei. Namun begitu, sejumlah wilayah di daerah selatan telah mengalami kondisi kesulitan air.

Maka dari itu sejumlah warga harus membeli air bersih tangki untuk mencukupi kebutuhan mereka. Menurutnya, saat ini sudah tercatat sekitar 20 hingga 30 persen warga Tanjungsari yang mengalami kekeringan. Terutama adalah padukuhan yang berada di perbukitan.

”Untuk mengantisipasi kekeringan tahun 2021 ini Kapanewon Tanjungsari menyediakan anggaran sebesar Rp 54.600.000 digunakan untuk droping air,” ucapnya.

Anggaran tersebut bisa mencakup sebanyak 273 tangki dan pengadaannya dengan melibatkan pihak ketiga. Sementara itu, Panewu Anom Girisuboz Arif Yahya mengatakan awal Mei ini sudah banyak warganya yang mengalami kesulitan air bersih sehingga mereka juga terpaksa harus membeli air tangki dalam pemenuhan kebutuhannya.

Terkait dengan kemarau tahun ini pihaknya dalam waktu dekat ini akan melakukan pendataan daerah mana saja yang sudah mengalami kesulitan air bersih. Data tahun lalu ada sekitar 60 padukuhan di 8 Kalurahan terdampak kekeringan. ”Awal bulan ini kami akan lakukan pemetaan kalurahan yang mengalami kesulitan air bersih,” terangnya. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI