Keluhan Petani Garam, Pemkab Akan Lakukan Kajian

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gunungkidul akan melakukan koordinasi dan penelusuran lapangan terkait kendala pemasaran yang dihadapi para petani Garam Dadap Makmur di Desa Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul. Hasil produksi yang memiliki potensi untuk berkembang menjadi besar tersebut memang butuh pembinaan dan pendampingan, tetapi lantaran keberadaannya merupakan program terpadu di bawah pengampu Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Propinsi DIY maka langkah yang akan dilakukan dengan mengedepankan koordinasi berbagai lintas.

”Kami akan tugaskan Kabid Perdagangan untuk melakukan penelusuran dan kajian lapangan sebelum melakukan langkah-langkah yang konkret,” kata Kepala Disperindag Gunungkidul Johan Eko Sudarto SSos.

Baca juga :

Mobil Pickup Mundur Sendiri, 'Nyemplung' Sungai Gajah Wong
Empat Wilayah Belum Ditetapkan Sebagai Kecamatan Inklusi

Dari laporan para petani garam di Desa Kanigoro, dalam sekali berproduksi sudah mampu menghasilkan 1,5 ton merupakan sebuah potensi besar yang harus diberikan motivasi dan langkahlangkah termasuk mengupayakan jalan keluar yang berkaitan dengan pemasarannya. Selama ini ada dua lokasi industri garam yakni di Pantai Sepanjang dan di Pantai Kanigoro dan keduanya samasama potensial dengan produksi yang cukup besar.

Karena itu langkah yang akan dilakukan Disperindag tersebut nantinya mendapat respons dari berbagai pihak agar problem pemasaran hasil produksi bisa lancar sesuai dengan harapan. ”Langkah yang akan kami lakukan merupakan bagian dari penanganan Usaha Kecil dan Menengah (UKM),” ucapnya.

Terpisah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul drh Krisna Berlian menyatakan bahwa hasil produksi garam di Gunungkidul saat ini tergolong berhasil dan sudah laku dijual. Informasi garam produksi di Pantai Sepanjang perkembangan terakhir sudah memiliki pasar sendiri.

Sedangkan terkait dengan produksi garam di luar Pantai Sepanjang kini sedang diupayakan termasuk pentingnya dilakukan pembinaan dan uji laboratorium. Dengan demikian bisa diketahui kandugan produksi garam dari Kabupaten Gunungkidul. ”Dengan uji laboratorium akan meyakinkan konsumen bahwa garam dari Gunungkidul benar-benar berkulitas,” ucapnya.

Sebagaimana diberitakan Petani garam di Desa Kanigoro,Saptosari, Gunungkidul mengeluhkan kendala pemasaran yang seret pascakeberhasilan berproduksi mencapai 1,5 ton sekali berproduksi. Keberhasilan tersebut belum terdukung kelancaran pemasaran yang hanya laku dipasarkan untuk campuran makanan ternak dan bersifat lokal. Para petni garam tersebut berharap pemerintah bisa melakukan pendampingan dan membantu memasarkan produk garam asli buatan Gunungkidul ini hanya dihargai rendah. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI