Kemenag Galakkan Tertib Administrasi

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul sedang menggalakkan tertib administrasi bagi pasangan suami istri yang sudah lanjut usia dan pernikahannya belum tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) akan mendapatkan surat nikah dan dinyatakan sah secara negara.

Untuk Kabupaten Gunungkidul terdapat dua kecamatan yang paling tinggi dalam pengajuan isbat nikah yakni Kecamatan Saptosari dan Kecamatan Paliyan, hingga memasuki pertengahan tahun ini, ada 30 pasangan.

“Tiga puluh pasangan dari kedua kecamatan tersebut mengajukan isbat nikah dan sudah dinyatakan sah oleh negara dan agama,” kata Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Kantor Kemenag Gunungkidul, Supriyanto.

Pengesahan melalui sidang isbat nikah dilaksanakan dari Biro Tata Pemerintahan Setda menggelar sidang isbat nikah di Balai Desa Sodo dan 30 pasangan yang rata-rata berusia lanjut dan telah dinyatakan sah oleh KUA Kecamatan Paliyan. Setelah sidang isbat nikah ditetapkan Pengadilan Agama Wonosari para pasangan lansia nantinya akan mendapatkan akta pernikahan.

Selain itu anak hasil pernikahan mereka juga berhak mendapatkan akta kelahiran secara gratis dari Disdukcapil. Sedangkan menyangkut biaya pelaksanaan isbat nikah ditanggung oleh Biro Tata Pemerintahan Setda DIY dan Pemkab Gunungkidul. Sementara pemerintah desa memiliki kewajiban untuk mendata masyarakat lansia yang belum memiliki akta nikah.

Terpisah, Kepala Seksi Humas Pengadilan Agama Wonosari, Barwanto mengatakan, setelah terbit surat untuk isbat nikah, Pengadilan Agama melakukan sidang cepat secara bersamasama. Rencananya sidang isbat nikah di Kabupaten Gunungkidul akan digelar tiga hingga empat kali. Mengingat di Gunungkidul khususnya daerah selatan masih banyak yang belum memiliki akta nikah program ini akan digencarkan.

Untuk melaksanakan sidang isbat persyaratannya adalah KTP kedua pasangan, Kartu Keluarga, surat keterangan dari KUA dan saksi yang mengetahui bahwa pasangan tersebut sudah pernah menikah secara agama. “Pasangan yang tidak memiliki akta pernikahan tersebut rata-rata menikah pada tahun 1960 -1980 dan beralasan pada saat itu ramai cara pernikahan bela nikah atau nikah numpang tetangga,” katanya. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI