Masuki Pancaroba, Waspadai Hujan Disertai Angin

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Wilayah DIY saat ini sudah masuk dalam musim peralihan (pancaroba) dari musim hujan ke kemarau. Hal itu bisa terlihat dari adanya pola angin yang pergerakannya tidak konsisten, terutama di bagian Selatan Equator.

”Biasanya dalam musim pancaroba, sering terjadi perubahan cuaca yang sifatnya ekstrem. Dalam menyikapi kondisi tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan,” kata Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Djoko Budiyono MSi di Yogyakarta.

Menurut Djoko, kondisi atmosfer di masa pancaroba seperti sekarang ada kecenderungan udara dalam keadaan lembap (kelembapan berkisar 60-95 %), sedangkan untuk suhu rata rata perhari mencapai 23 sampai 33 derajat Celsius. Namun dengan posisi matahari yang berada di equator secara tidak langsung sudah memberikan kontribusi berupa pemanasan kuat yang bisa memberikan supply uap air di atmosfer.

”Kondisi itu mengakibatkan atmosfer dalam keadaan labil dan lembap. Dampaknya pembentukan awan-awan konvektif seperti cumolunimbus akan berpotensi muncul. Hal ini diperkuat dengan adanya daerah tekanan rendah di barat daya Pulau Jawa dan siklon tropis di sebelah barat Australia,” jelas Djoko, seraya menambahkan, kondisi di atas memberikan dampak pada terjadinya hujan sedanglebat yang disertai petir dan angin kencang di sebagian besar wilayah Yogyakarta.

Lebih lanjut Djoko menambahkan, mengingat terjadinya hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang bersifat mendadak. Pihaknya meminta agar di musim pancaroba, masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan. Karena umumnya kondisi cuaca pada pagi hari cerah berawan, sementara pada siang sampai sore hari bisa muncul hujan kategori sedang – lebat dengan periode singkat dan lokal.

”Potensi hujan paling banyak muncul di Utara dan Tengah Yogyakarta. Seperti Sleman, Kulonprogo Utara, sebagian besar Bantul, Kota dan Gunungkidul bagian utara,” jelasnya. (Ria)

BERITA REKOMENDASI