Minyak Kelapa Tradisional Tetap Bertahan di Gunungkidul

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Usaha rumah tangga minyak kelapa (lenga klentik) di Dusun Gedangsari, Desa Baleharjo Kabupaten Gunungkidul hingga saat ini tetap eksis meskipun dihadapkan persaingan hasil industri dengan teknologi maju. Industri rumahan milik pasangan suami istri Paekan (60) dan Ny Tumi (58) yang dirintis sejak 1985 lalu, kini memiliki pelanggan tersendiri dan tiap hari rata-rata bisa menghasilkan 15 kemasan botol rata-rata berisi 0,75 liter atau sekitar 750 cc.

“Harga tiap botol minyak klentik atau minyak kelapa hasil olahan kami Rp 40 ribu perbotol atau dalam penghasilan kotor tiap hari Rp 600 ribu,” kata Paekan di rumahnya.

Untuk memperoleh hasil produksi maksimal, dia membeli bahan baku berupa kelapa baik hasil lokal maupun membeli dari Kabupaten Kulonprogo, DIY maupun Purworejo, Jawa Tengah. Tiap hari rata-rata menghabiskan bahan baku kelapa sekitar 100-110 butir dengan asumsi harga tiap butir antara Rp 3.000 hingga Rp 3.500.

Selain kelapa, tiap hari juga membeli kayu bakar untuk memproses pembuatan minyak kelapa ini dengan menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Memang jika dikalkulasi keuntungan yang diperoleh tidak begitu besar, tetapi lantaran rutinitas produksinya terjaga menjadikan pasangan suami-istri berusia lanjut ini selalu memperoleh penghasilan. “Justru diproses dengan cara tradisional inilah menjadikan hasil produksi kami dicari orang,” imbuhnya.

Untuk memasarkan minyak kelapa buatannya, tidak terlalu sulit bahkan mengaku sering kewalahan menerima pesanan. Selama ini dia sudah punya langganan sejumlah pedagang makanan di Pasar Wonosari. Selain itu juga beberapa orang yang memang sejak lama menggunakan produksinya untuk kebutuhan diluar untuk memasak.

Termasuk juga digunakan sebagai minyak rambut terutama mereka yang usianya di atas 50 tahun. Selain menghasilkan minyak, olahan minyak kelapa tradisional ini juga menghasilkan blondo dan biasa dibeli rumah makan khususnya yang menyediakan makanan gudeg.

Menurut Paekan, minyak goreng buatannya juga banyak dibeli warga untuk pengobatan yang konon memiliki kandungan virgin oil. Dengan kata lain sehari bisa menghasilkan sebanyak 15 botol, tiap botol berisi rata-rata 0,75 liter dijual Rp 40.000/botol cukup laris. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI