Panen Jambu Mete Desa Ngeposari Meningkat

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Petani di Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul, terutama di Dusun Semuluh, Ngaglik dan Dusun Mojo, mampu bertahan di lahan marjinal yang beriklim kering berhasil memanen jambu mete. Untuk produksi panen saat ini mengalami kenaikan dibanding tahun lalu untuk tanaman jambu mete sebanyak 30-40 batang bisa menghasilkan uang penjualan hasil panen senilai antara Rp 5 juta-Rp 6 juta.

”Saat ini harga biji mete juga sudah membaik dibanding tahun lalu,” kata petani Lagiyem, warga Desa Ngeposari, Semanu.

Pada tanah garapan yang disewa Lagiyem, terdapat 40- an pohon jambu mete dan dari 40 pohon yang dimiliki, Lagiyem mendapatkan penghasilan sekitar Rp 6 juta. Jambu mete tidak banyak memerlukan perawatan, hanya sesekali memberikan pupuk kandang dan mempersiapkan lahan setiap menghadapi musim hujan.

Keberadaan jambu mete di wilayah tersebut telah ada sejak lama. Berdasar penuturan salah satu tokoh masyarakat, Sudarto, jambu mete awalnya dimiliki oleh seorang pamong desa pada tahun 1922. Tiga pohon jambu mete saat itu kemudian dikembangkan dan mampu menghijaukan bukit-bukit gundul. ”Saat ini hampir seluruh lahan kosong ditanami jambu mete,” imbuhnya.

Bahkan berkat dukungan pemerintah melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY beberapa tahun lalu, Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY bekerja sama dengan BPTP Yogyakarta dan Balai Penelitian Tanaman Industri (Balittri) melakukan observasi pertanaman hingga akhirnya mengusulkan pelepasan (pemutihan) varietas Jambu Mete ‘Meteor’ Industri rumahan pengolahan biji jambu mete juga bermunculan pasca meluasnya jambu mete di wilayah Kecamatan Semanu.

Hanya saja pengembangannya justru menurun dan warga sebatas menjual biji jambu mete dalam keadaan pasca petik hasil panen dalam bentuk biji (dikupas). Biji jambu mete ini kemudian dijual kepada industri olehan makanan dan terbanyak di Wonosari dan Karangmojo. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI