Pemkab Gunungkidul Batasi Jual-Beli Ternak

WONOSARI, KRJOGJA.com – Kasus kematian sapi mendadak di Kabupaten Gunungkidul terus terjadi. Dua hari setelah ditetapkannya Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks, dua ekor sapi milik Suparno (50) warga Dusun Susukan III, Genjahan Ponjong dan seekor sapi milik Sumardi (55) warga Desa Pacarejo, Semanu ditemukan mati mendadak. 

Dua kejadian ini menimbulkan kekhawatiran dan langsung melaporkan ke Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Sementara pengawasan dan pembatasan lalu-lintas hewan keluar masuk ke daerah terpapar antraks gencar dilakukan untuk mencegah meluasnya penyakit tersebut.  "Berbagai langkah sudah kita lakukan agar penyakit antraks bisa dicegah,” kata Kepala Seksi Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, drh Retno Widyastuti, Minggu (19/1).

Sementara pengawasan dan pembatasan lalu-lintas terus digencarkan dan pada Minggu (19/1) dinihari dilakukan di Desa Bedoyo Kecamatan Ponjong dan di Kecamatan Rongkop untuk mengantisipasi masuk dan keluarnya ternak dari Gunungkidul ke luar daerah maupun sebaliknya. Pengawasan melibatkan tim terpadu dari Pemkab, Polres, TNI, Satpol PP dan jajaran terkait. Sapi maupun kambing
yang akan dijualbelikan harus dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Sedangkan untuk wilayah terpapar antraks hingga saat ini masih bertahan untuk tidak menjualbelikan ternak-ternak mereka.”Kita mendukung langkah pemerintah untuk sementara tidak menjual maupun membeli ternak dari luar daerah, hal ini kita lakukan agar pencegahan penyakit antraks lebih
efektif dan Gunungkidul kembali terbebas dari penyakit antarks,” kata Hadi Suwarno (56) warga Kecamatan Ponjong kepada
KR Minggu (19/1).

Peningkatan status menjadi KLB antraks di Gunungkidul berdampak terhadap penjualan daging ternak terutama sapi dan kambing. Tingkat konsumsi daging mengalami penurunan dan diakui sejumlah pedagang daging di Pasar Argosari bahwa penurunan penjualan daging sapi mencapai lebih dari 40 persen. Begitu juga sejak peningkatan status KLB banyak penjual sate kambing memilih tutup sementara dan meminta pemerintah memiliki Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sehingga dapat memastikan kepada masyarakat bahwa daging yang mereka konsumsi adalah memenuhi standar kesehatan dan tidak terkena penyakit. “Saatnya pemerintah bisa membangun rumah pemotongan hewan,” ucap Ny Sri Sumarni pedagang di Pasar Argosari, Wonosari.

Ditambahkan drh Retno Widyastuti, penanganan hewan ternak yang mati mendadak dilakukan dengan mengambil sampel tanah kotoran ternak dan beberapa unsur lainnya. Selanjutnya dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui ada bakteri ataupun spora berbahaya terkait antraks atau tidak. Selain juga memberikan suntikan vaksin pada kambing juga sapi lain yang satu kandang dengan sapi
mati tersebut.

Selain vaksin, cairan formalin disemprotkan ke kandang. Untuk sementara ini ciri-ciri dari sapi yang mati mendadak itu karena sakit. Mengingat sejak beberapa hari lalu, dari pengakuan pemiliknya ternak itu menunjukkan jika dalam kondisi sakit. “Meskipun demikian kita tetap menunggu hasil uji lab,” terangnya. (Bmp)

 

BERITA REKOMENDASI