Penanganan Antraks Masih Bersifat Spekulatif

Editor: KRjogja/Gus

WONOSARI, KRJOGJA.com – Upaya penanggulangan dan pencegahan penyakit antraks di Kabupaten Gunungkidul belum mampu mengatasi persoalan dan justru kematian sapi di sejumlah tempat terus terjadi. Salah satu program andalannya dengan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) perlu diikuti dengan program pamungkas termasuk upaya memutus mata rantai penularan antar hewan.

Jika diperlukan kebijakan penutupan sementara pasar hewan penting untuk dilakukan. "Pemkab seharusnya bisa belajar dari daerah lain yang berhasil menuntaskan penyakit antraks dan selama ini upaya yang dilakukan masih bersifat spekulatif," kata Widodo (50) salah satu peternak warga Kecamatan Karangmojo, Minggu (26/1).

Data Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul jumlah ternak mati mendadak terutama jenis sapi terus terjadi dan dalam satu hari kemarin tiga ternak sapi di tiga kecamatan ditemukan mati di dalam kandang. 

Pada pagi harinya, terjadi di Kecamatan Saptosari dan Nglipar, siang hari ternak sapi di wilayah Ngawis, Kecamatan Karangmojo. Sehari sebelumnya juga terjadi di Kecamatan Nglipar dan Gedangsari, juga terjadi di Kecamatan Playen dan Rongkop. 

Menurut keterangan Kapolsek Karangmojo, Kompol Sunaryo sapi mati di wilayahnya tersebut adalah milik Mulyadi warga Rejosari, Ngawis. Diketahui, sapi  tersebut dari jenis simental dengan usia 2 tahun seharga Rp 33 juta. Karena  sapi yang mati itu berukuran besar membuat proses penguburan cukup rumit. 
"Karena warga takut terpapar bakteri antraks, ukuran evakuasi dan penguburan bangkai sapi dilakukan menggunakan alat berat." ucapnya. 

Perkembangan di lapangan, masyarakat saat ini semakin mengkhawatirkan jika program penanggulangan belum bisa membawa hasil yang signifikan. Bahkan saat terjadi kematian sapi mendadak proses penguburan bangkai sapi sesuai dengan Operasional Prosedur (SOP) juga mengalami kendala dengan jumah petugas  yang berprofesi Aparatur Sipil Negara (ASN) terbatas dan terbanyak tenaga kontrak dan pegawai honorer. 
"Kami berharap ada solusi untuk petugas lapangan ini karena masyarakat saat ini semakin mengkhawatirkan dengan jumlah personel yang sedikit akan berdampak terhadap upaya penanggulangan antraks," kata salah satu petugas lapangan kepada KR.

Kepala DPP Gunungkidul, Ir Bambang Wisnu Broto upaya pencegahan antraks akan terus dilakukan, selain melanjutkan program yang ada saat ini tengah menyusun anggaran vaksin ternak dan dipping (pencelupan) atau kolam dan penyemprotan desinfektan  yang akan ditempatkan di dua pasar besar di Gunungkidul. 
Pihaknya juga mengajukan anggaran vaksin, obat-obatan, alat pelindung diri, termasuk Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE). "Untuk desa yang diberikan vaksinasi dan antibiotik sesuai dengan ring wilayah terpapar dan berpotensi," ujarnya. 

Untuk sementara desa-desa yang terpapar antraks kita batasi bahkan menutup lalu-lintas hewan ternak untuk dijual-belikan ke luar daerah. (Bmp)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI