Pengusaha Tempe di Gunungkidul Kurangi Produksi

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Sejumlah pengusaha tempe di Gunungkidul memilih untuk mengurangi jumlah produksi karena harga bahan baku naik. Harga kedelai impor naik di awal tahun 2021. Jika sebelumnya harganya Rp 6.700/kg kini menjadi Rp 9.200/kgnya. Sehingga pengusaha tempe di Gunungkidul mengurangi produksi. Karena kenaikan harga bahan baku ini memberatkan produsen.

”Harga sebelumnya Rp 6.700 , namun awal tahun ini mengalami kenaikan menjadi Rp 9.200,” kata Mustofa salah satu produsen tempe di Siraman, Kapanewon Wonosari.

Meskipun terdampak bahan baku naik, Mustofa tetap menjalankan usaha yang digelutinya sejak 2002 ini. Menurutnya penggunaan bahan kedelai impor hasilnya lebih maksimal. Karena itu masih menggunakan kedelai impor dibandingkan lokal.

”Memang sejak awal selalu menggunakan kedelai impor. Walaupun harganya kini naik, tetap menggunakan kedelai impor dengan diikuti mengurangi produksi. Biasanya memproduksi 1,5 kuintal kini menjadi 1 kuintal perharinya,” imbuhnya.

Terpisah Kabid Kabid Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul Yuniarti Ekoningsih menuturkan, kenaikan kedelai impor memang sudah dirasakan sejak akhir Desember 2020. Kenaikan ini juga berdampak pada naiknya harga tempe di pasar.

Kebijakan impor ini merupakan kewenangan dari pemerintah pusat. Daerah tidak bisa berbuat banyak, hanya melakukan pemantauan dan melaporkan ke DIY. (Ded)

BERITA REKOMENDASI