Petani Garam Kanigoro Terkendala Pemasaran

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Petani garam di Desa Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul mengeluhkan kendala pemasaran yang seret pascakeberhasilan berproduksi. Faktor musim yang bisa memicu keberhasilan produksi garam berkualitas tinggi tersebut belum mampu menjangkau pasar yang layak sesuai standar kualitas.

"Saat ini hasil produksi kami sudah mencapai 1,5 ton, tapi hanya laku dipasarkan untuk campuran makanan ternak," kata Ketua Kelompok Petani Garam Dadap Makmur Kanigoro, Triyono.

Baca juga :

Sultan Prihatin Kasus Korupsi Dana Desa di Kulon Progo
Alasan Kotagede Jadi Kota Terindah di Asia Versi CNN Internasional

Terkait masalah pemasaran hasil produksi garam ini, pemerintah belum pernah melakukan pendampingam atau membantu memasarkan produk garam asli buatan Gunungkidul ini. Akibat terkendala pemasaran tersebut garam berkualitas ini hanya digunakan untuk kebutuhan campuran pakan ternak dan baru bisa dijual ke masyarakat sekitar dengan harga cukup rendah yakni Rp 3.000 per kilogram.

Menyangkut masalah pemasaran ini sebenarnya telah terjadi sejak lama. Tetapi kepedulian pemerintah belum ada, sehingga penjualan produksi terbatas kawasan lokal.

”Pada pertengahan tahun lalu kami sudah sampaikan kepada pemerintah tentang kesulitan pemasaran produk ini tetapi tidak ada respon ,” ujarnya.

Dijelaskan, untuk bahan baku produksi, saat ini para petani masih memanfaatkan air laut yang ada di Pantai Dadap Ayam dan terdapat 75 kotak yang menyerupai terowongan atau kerap disebut tunnel digunakan untuk produksi garam. Setiap lima buah tunnel mampu menghasilkan 80 sampai 90 kilogram garam grosok. ”Kalau produksi lancar biasanya bisa sampai 500 sampai 700 kilogram garam, per hari,” ucapnya.

Triyono berharap, produksi yang melimpah itu dapat berbanding dengan kesejahteraan para petani. Namun dia pesimistis jika tidak ada dorongan dan bantuan dari pemerintah terkait dengan pemasaran tersebut. Jika produksi mereka memiliki pasar yang jelas, para petani garam akan mampu memperoleh keuntungan yang layak.

Pasalnya, akses untuk mencapai lokasi tersebut sangatlah mudah karena satu arah dengan Pantai Ngobaran. Pihaknya berharap pemerintah turun tangan dan membantu proses pemasaran produksi garam tersebut.

Selain itu, para petani juga meminta adanya pelatihan pembuatan garam batang, dengan harapan garam produksi mereka mampu diterima pasar. ”Kalau ada pelatihan pembuatan garam batang itu kan bisa lebih awet. Masyarakat yang beli untuk konsumsi juga lebih berminat,” imbuhnya. (Bmp)

BERITA REKOMENDASI