Peternak Gunungkidul Kesulitan Cari Pakan

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Memasuki pertengahan September 2017 yang merupakan puncak kemarau, para peternak besar di Gunungkidul mulai kesulitan memperoleh pakan ternak, baik untuk sapi dan kambing. Rumput di ladang sudah mengering, apalagi tandon pakan berupa limbah pertanian baik jerami dan limbah pertanian lainnya juga sudah habis. Satu-satunya jalan, peternak harus membeli Hijauan Makanan Ternak (HMT) yang didatangkan dari luar daerah.

Sedangkan bagi peternak yang tidak mampu membeli HMT berupa batang jagung, banyak yang memberi pakan berupa batang pisang, daun munggur, daun mahoni, bahkan dedaunan yang sudah kering. Hal tersebut dikatakan salah seorang peternak di Logandeng, Sukiran. Menurutnya, para peternak saat ini benar-benar kesulitan mendapatkan pakan ternak yang bergizi.

”Untuk memberi pakan ternak berupa HMT untuk satu ekor sapi sedikitnya dibutuhkan HMT 4 ikat yang harganya Rp 20.000-Rp 25.000. Jika ditotal dalam sebulan bisa menghabiskan Rp 600.000 sampai Rp 750.000. Itu belum bekatul dan konsentrat,” ucapnya.

Sehingga jika dihitung peternak akan merugi, karena dalam satu bulan tidak mungkin harganya akan naik Rp 600.000. Sumiyo, salah seorang pedagang HMT yang mangkal di selatan Pasar Wonosari mengatakan, setiap hari bisa menjual tidak kurang dari setengah rit truk yang dibeli dengan harga Rp 3 juta setiap rit. Adapun harga jual HMT berupa batang jagung satu ikat Rp 5.000 berisi 5 batang jagung.

HMT yang dikirim ke Gunungkidul baik dari Klaten, Boyolali, Bantul dan daerah lainnya tidak kurang dari 100 rit, sehingga biaya untuk membeli pakan ternak bagi peternak di Gunungkidul dalam sehari tidak kurang Rp 300 juta. Salah seorang pembeli pakan ternak asal Siraman Wonosari, Warjo mengatakan, saat ini untuk memberi pakan ternak, cukup mahal. (Awa)

BERITA REKOMENDASI