Puluhan Rumah di Mertelu Terbenam Longsor, Warga Masih Mengungsi

Editor: KRjogja/Gus

WONOSARI, KRJOGJA.Com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul mencatat puluhan korban bencana longsor di Desa Mertelu, Gedangsari, Natah Kecamatan Nglipar, Tegalrejo, masih bertahan di tempat pengungsian Kamis (07/03/2019). Bahkan pada  dinihari tadi, jumlah pengungsi bertambah menjadi  17 orang berhasil dievakuasi oleh tim gabungan saat khususnya korban longsor dari Dusun Pringombo, Desa Natah, Nglipar, Gunungkidul.

Petugas terpaksa mengungsikan warga yang tinggal di sekitar lokasi longsor untuk  tinggal sementara di rumah salah seorang warga karena rumah mereka sebagian tertimbun longsor dan rata dengan tanah. “Ke 17 warga tersebut terdiri dari 6 KK yakni keluarga Radinem, Sukardi, Suparno, Ariyanto, Gapung Lelono, dan Giyanto,” kata  Dukuh Pringombo, Ristadi Kamis (07/03/2019) siang.

Dia berharap pemerintah segera memberikan bantuan logistik ke tempat penampungan ini. Karena ingga saat ini, belasan warga terdampak tanah longsor tersebut telah tinggal sementara di rumah Jumeno. Kondisi kerusakan rumah korban longsor beragam, ada yang rumahnya roboh akibat pergerakan tanah dan terdapat beberapa diantaranya karena sebagian rumahnya tertimbun longsor.

Saat ini BPBD Gunungkidul juga tengah melakukan inventarisasi jumlah korban longsor di Desa Mertelu, Desa Hargomulyo dan Desa Tegalrejo Kecamatan Gedangsari. Khusus untuk Desa Mertelu ini tercatat cukup parah dengan total mencapai puluhan rumah. “Kita masih lakukan pendataan jumlah korban baik longsor maupun banjir terdampak hujan deras semalam,” imbuh Kepala Pelaksana BPBD Edy Basuki MSi.

Sementara perkembangan terkini, banjir sepanjang bantaran Sungai Oya, dari Desa Pundungsari, Semin, Watusigar, Nglipar, Desa Ngalang yang menyebabkan ratusan rumah dan beberapa diantaranya mengalami rusak kategori rusak sedang dan berat berangsur surut. Beberapa warga yang semula diungsikan sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing. Dengan dibantu Tim Reaksi Cepat (TRC), relawan dan Tim SAR dari PMI maupun Tagana juga TNI/Polri mereka bergotong royong memperbaiki dan membersihkan rumah dari sisa-sisa banjir. “ Selain rumah terdapat beberapa fasilitas umum yang rusak akibat longsor maupun banjir, termasuk beberapa sekolah, dan hewan ternak yang hanyut terseret banjir,” ucapnya.  

Dampak terjadinya bencana alam pada puncak penghujan ini memang terjadi paling ekstrem dengan jumlah korban longsor maupun banjir cukup banyak. Ironisnya, curah hujan paling deras hanya terjadi dua zona utara meliputi Kecamatan Gedangsari, Nglipar, Ngawen dan Semin yang berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Dalam pemetaan pemerintah Kabupaten ke  4 Kecamatan ini tercatat di beberapa desa merupakan Kawasan Rawan Bencana (KRB) terutama longsor. Sedangkan rawan benjir dipetakan di sepanjang bantaran Sungai Oya. (Bmp)

 

 

BERITA REKOMENDASI