Punya Potensi Wisata dan Dilintasi JJLS, Batik Tepus Bangun dari Tidur

WONOSARI, KRJOGJA.com – Tak kurang 28 orang ibu dan remaja putri berkumpul di Balai Desa Tepus Gunungkidul, Kamis (27/2/2020) kemarin. Mereka tampak anggun mengenakan pakaian batik yang sejak lima hari lalu dibuat sendiri.

Mereka tergabung dalam Kelompok Wanita (KW) Makmur yang kini berusaha membangungkan batik Tepus dari tidur panjang selama ini. Batik yang memiliki ciri khas guratan dinamis bersiap kembali dipasarkan, bebarengan dengan adanya Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) dan pariwisata Tepus yang eksotis bentang alamnya.

Camat Tepus, Alsito melempar keyakinan kini batik Tepus bisa semakin menggeliat. Adanya rest area di kawasan Tepus ditambah pemasaran yang semakin luas menggunakan jejaring online akan membuat batik yang diinisiasi warga Padukuhan Gembuk tersebut mendunia.

“Saya pesan dua untuk saya dan istri akan digunakan seragam dan dipromosikan di kecamatan. Kami juga berterimakasih untuk program Pelatihan Membatik Sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Program Kerja Sama LPPM ST3 (Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu) dan Kampung Batik Manding Siberkreasi (KBMS) yang dengan luar biasa memberikan pendampingan,” ungkap Alsito pada wartawan.

Sementara Dwi Ratna Kusumaningdyah, Ketua LPPM ST3 mengungkap batik Tepus diharapkan menjadi salah satu jalan keluar bagi warga masyarakat setempat dari kesulitan ekonomi yang kerap mengintai saat pertanian tidak baik. Batik menurut dia bisa menggerakkan ekonomi rumah tangga yang sekaligus bisa menjangkau sisi pengembangan wilayah Tepus pada umumnya.

“Kayak nggak ada yang peduli, akhirnya kami sesuai kemampuan mendampingi lewat pembuatan batik. Kami pilih batik untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga mereka. Kita buat program dan kegiatan. Namun karena membatik itu tidak mudah, ibu-ibu ini belajar dengan ekstra keras. Kami berharap bisa jadi jalan keluar meningkatkan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.

Dyah mengungkap antusiasme luar biasa peserta pelatihan yang justru bertambah di tengah prosesnya. “Biasanya habis pelatihan peserta menyerah. Ini malah tambah dari 22 semula peserta sekarang jadi 28. Bagi kami ini surprise juga. Mereka sangat antusias sampai hari ini masih sangat bersemangat,” sambungnya.

KW Makmur sendiri akan didampingi selama lima tahun kedepan untuk mengumpulkan modal serta terus meningkatkan kualitas batik. Batik dengan pewarna alami yang bisa masuk pasar ekspor serta batik cap yang bisa diproduksi dengan lebih masif menjadi tujuan pengembangan Batik Tepus, asli Gunungkidul tersebut. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI