Pura Paku Alaman Diminta Penuhi Tuntutan Kompensasi Warga Penggarap

Editor: KRjogja/Gus

WATES (KRJogja.com) – Wakil Ketua I DPRD Kulonprogo H Ponimin Budi Hartono SE mengatakan, pemerintah dan Pura Paku Alaman serta PT Angkasa Pura (AP) I hendaknya sedikit demi sedikit mengatasi persoalan yang bisa menjadi kendala dalam proses pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Termasuk masalah penggarap Paku Alaman Ground (PAG) yang menuntut kompensasi yang layak.

"Masalah penggarap PAG merupakan salah satu sandungan yang sedikit banyaknya bisa menghambat percepatan pembangunan bandara internasional di Temon. Kalau Pemkab Kulonprogo dan Pemerintah DIY serius mendesak pihak Pura Paku Alaman, sebenarnya penyelesaian persoalan tuntutan petani penggarap PAG tidak sulit diatasi. Jadi kuncinya memang di Pura Paku Alaman," katanya menanggapi aksi damai yang dilakukan ratusan warga penggarap PAG yang tergabung dalam Forum Komunikasi Penggarap Lahan Pesisir (FKPLP), Jumat (2/9).

Ponimin mengungkapkan keberadaan NYIA yang diharapkan akan memajukan Kulonprogo dengan percepatan pembangunannya, sehingga 2019 dapat beroperasi memang tidak bisa dipungkiri banyak menghadapi kendala. Tapi hal tersebut tidak boleh menyurutkan niat membangun wilayah dengan cara dicarikan solusi terbaik sehingga semua pihak tidak merasa ada yang dirugikan. "Setiap persoalan yang akan menjadi kendala pembangunan bandara secara bertahap harus diatasi," tambahnya.

Kalau pihak Pura Paku Alaman tambah Ponimin, bisa segera memenuhi kompensasi yang disampaikan warga penggarap maka nama Puro Paku Alaman akan menjadi harum. Sebaiknya bila ternyata masih diam maka masalahnya akan menjadi berlarut-larut. "Saya pikir wajar-wajar saja petani penggarap PAG menuntut ganti rugi dan sudah semestinya Paku Alaman memberikan kompensasi yang layak.

Sementara Ketua Komisi III DPRD setempat Hamam Cahyadi ST berharap Pura Paku Alaman segera memberikan kejelasan soal kompensasi yang menjadi tuntutan warga penggarap. "Demi segera terealisasinya pembangunan bandara, sebaiknya masalah tuntutan warga penggarap PAG secepatnya diselesaikan," tuturnya.
Sebelumnya Koordinator FKPLP Sumantaya menyatakan, tanpa ada sentuhan tangan penggarap sesungguhnya harga tanah pesisir murah. Adapun terjadi kenaikan nilai jualnya setelah jadi lahan produktif. (Rul)

 

BERITA REKOMENDASI