Siswa Terpaksa Belajar di Balai Pedukuhan Karena Sekolah Kena Imbas Pembangunan JJLS

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Pemandangan miris terlihat di Balai Pedukuhan Blekonang 1 dan Blekonang 2 Kalurahan Tepus Kapanewon Tepus Gunungkidul. Tampak puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) mengikuti pelajaran dengan kondisi ruang seadanya. Rumah Limasan itu hanya dibagi dengan sekat papan tripleks.

Saat sekolah lain menyambut gembira dimulainya kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), siswa SDN Tepus 2 tidaklah demikian. Pasalnya, mereka tidak bisa kembali ke sekolahnya, melainkan ke ‘sekolah darurat’ di Balai Dusun usai bangunan sekolah mereka dirobohkan karena terkena proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS).

Para siswa terpaksa harus menjalani kegiatan belajar mengajar di tempat yang kurang begitu nyaman. Dalam 10 hari terakhir, mereka belajar di Balai Pedukuhan karena tidak ada lagi tempat untuk belajar yang lokasinya memadai.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam hal ini Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) belum membangunkan gedung baru sebagai ganti gedung lama yang terkena proyek JJLS.

Komite Sekolah SDN Tepus 2 Supriyadi mengatakan apa yang dialami para siswa murni karena kesalahan dari Disdikpora Gunungkidul. Bagaimana tidak, pihak Disdikpora tak segera membangun gedung yang baru meskipun mereka telah mengantongi uang ganti rugi bangunan sekolah dari pemerintah sebagai dampak dirobohkannya gedung SDN 2 Tepus karena terdampak pembangunan JJLS.

“Uang ganti rugi itu sudah diterima bertahun-tahun. Dan 4 bulan yang lalu pihak sekolah dan dinas sudah diberitahu agar segera pindah,” ujar dia, beberapa waktu lalu.

Namun nampaknya Disdikpora tidak menggubris pemberitahuan tersebut. Para guru pun tidak mengetahui progres yang terjadi dari program Disdikpora. Para guru justru kaget ketika ada surat pemberitahuan akan adanya pembongkaran gedung SD tersebut.

Surat pemberitahuan tersebut sampai ke sekolah sekitar 3 minggu lalu. Tak hanya itu, listrik pun langsung dicabut, padahal, saat itu aktivitas pembelajaran masih berlangsung. Para guru pun lapor ke komite sekolah meminta solusi hingga akhirnya komite sekolah kelabakan mencari bangunan untuk kegiatan belajar mengajar.

“Saya akhirnya menegosiasi pemborong sekitar 2 minggu. Selama 2 minggu masyarakat sekitar membongkar dokumen yang penting dan memindahkan ke rumahnya,” ujar dia.

Untuk beberapa peralatan sekolah seperti meja kursi dan juga papan tulis ataupun lemari ditempatkan di Balai Pedukuhan Blekonang 3, dan dewan guru serta komite sekolah memutuskan melaksanakan pembelajaran di Balai Pedukuhan Blekonang 1 dan 2. Jarak antar Balai Pedukuhan tersebut mencapai 1 kilometer.

Sebelum pembongkaran, pihak komite sekolah sebenarnya telah berusaha melakukan koordinasi dengan berbagai pihak mulai dari Kelurahan, Kapanewon, Disdikpora, ataupun DPRD Gunungkidul untuk menanyakan kepastian nasib gedung SDN 2 Tepus, tetapi tidak mendapatkan kepastian jawaban.

“Saya mendapatkan informasi bahwa Disdikpora memang mempunyai program me-regrouping sekolah tersebut. Wacana itu muncul sejak tahun 2014 lalu,” paparnya.

Namun regrouping tersebut juga sekadar wacana karena belum ada kepastian. Apalagi dirinya mendengar tahun 2022 nanti sekolah akan menerima tambahan 3 orang guru baru. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan lagi apakah regrouping jadi dilaksanakan.

BERITA REKOMENDASI