Tekad Surip Manunggal Bersama TNI

Editor: Ivan Aditya

Tenaganya memang sudah tak muda lagi, namun semangatnya terus berkobar untuk berbuat yang terbaik. Bersama prajurit Kodim 0730 Gunungkidul, Surip (70) menyumbangkan sisa usianya untuk TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-105. Tujuannya tak lain hanya satu, sebagai rakyat ia ingin manunggal bersama TNI.

Pagi-pagi benar Surip sudah bangun dari pembaringannya. Tak seperti hari-hari biasanya dimana ia harus ke ladang untuk bercocok tanam ketela di lahan kecil miliknya, namun pagi itu perempuan tua ini justru bergegas pergi ke rumah kepala dusun setempat yang jaraknya tak begitu jauh dari kediamannya.

Dengan sendal japit yang selalu setia mengantarkannya kemanapun ia pergi, Surip berjalan kaki menembus dinginnya pagi. Maklum saja Surip termasuk keluarga miskin di dusunnya. Jangankan kendaraan bermotor, sepeda kayuh pun ia tak memiliki.

Janda empat orang anak ini nampak bersemangat pagi itu. Di rumah kepala dusun puluhan warga telah berkumpul, beberapa diantaranya terlihat membawa cangkul, linggis, sabit maupun peralatan kerja lainnya.

Namun Surip datang tak membawa perlengkapan apapun, hanya segenggam semangat serta kemauan yang keras dijadikannya bekal baginya pagi itu. Ia ingat hari itu ratusan prajurit akan datang ke dusunnya di Pedukuhan Banaran IX, Desa Banaran, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari kejauhan derap sepatu prajurit terdengar dan semakin lama langkah itu terasa kian dekat. Mengenakan seragam loreng warna hijau, ratusan tentara dengan gagah berjalan mendatangi Dusun Banaran IX seolah hendak melakukan ‘serangan’.

Pagi itu merupakan hari pertama serbuan teritorial yang dilaksanakan prajurit Kodim 0730 Gunungkidul. Operasi militer selain perang itu dinamakan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-105.

Layaknya tentara yang hendak maju di medan peperangan, satu persatu warga menyambut kedatangan para prajurit, tak terkecuali Surip. Tidak ada lagi siapa prajurit maupun rakyat di sini, semua berkumpul jadi satu dalam barisan.

Pembagian tugas pun dilakukan, dari beberapa sasaran fisik yang akan dikerjakan Surip mendapat tugas untuk membantu para tentara melakukan pengerasan jalan guna membuka akses menuju pemakaman dusun setempat. Tak nampak raut lelah dari mata tua Surip, justru ia  terlihat paling bersemangat diantara warga lainnya.

“Di rumah tinggal sendiri, jadi tidak ada yang saya kerjakan. Saat mendengar akan ada pak tentara datang saya langsung bertekad untuk membantu sekuat tenaga, biar cepat selesai,” ujarnya.

Surip memilih tugas yang tak begitu berat dilakukannya, yakni mengangkut bebatuan kapur untuk ditimbun guna pengerasan jalan. Tak menggunakan alat berat ataupun cangkul, karung bekas wadah beras pun dapat dijadikan alat untuknya membantu perkerjaan.

Nenek sepuluh orang cucu ini merasa senang kebagian tugas membuka akses jalan menuju makam, di kuburan itu pula mediang suami yang telah dua tahun lalu pergi meninggalkannya beristirahat untuk selamanya. Dengan membangun jalan menuju pemakaman Surip merasa bisa berbakti kepada suami tercinta, selain juga untuk bangsa dan negara serta desanya.

“Saya sering berziarah ke makam ini bersama anak cucu. Suami saya dimakamkan di sana, jadi tidak jauh untuk kami jika ingin berziarah. Kalau sudah ada jalannya jadi mudah jika hendak ke makam,” kata Surip sambil menunjuk ke arah komplek pemakaman.

Saat siang hari ketika matahari berada di atas kepala menjadi saat yang dinanti-nanti Surip serta para prajurit dan warga lainnya untuk beristirahat. Mereka yang lelah seharian bekerja memanfaatkan waktu untuk berkumpul bersama guna melaksanakan ibadah maupun makan siang di dapur umum yang telah disiapkan.

Setiap hari Surip dan warga bahu membahu bersama prajurit untuk menyelesaikan seluruh pembangunan yang diprogramkan dalam TMMD Reguler ke-105 Kodim 0730 Gunungkidul ini. Tak ada jarak antara mereka, dari situlah terlihat kemanunggalan antara TNI dan rakyat.

Hingga tanpa terasa seluruh sasaran pengerjaan rampung dilaksanakan sebelum penutupan TMMD Reguler ke-105 Kodim 0730 Gunungkidul pada Kamis 8 Agustus 2019. Kerja keras prajurit dan rakyat meninggalkan hasil nyata serta kenangan kebersamaan yang akan selalu diingat masyarakat Dusun Banaran IX.

“Saya merasa senang bisa membantu bapak-bapak tentara. Ternyata tenaga saya yang tua ini masih dapat berguna untuk kebaikan sesama,” ujar Surip.

TMMD Selamatkan Desa Terisolir

Dusun Banaran IX merupakan wilayah terpencil yang  berada pinggiran Kabupaten Gunungkidul. Berjarak kurang lebih 7 km dari pusat Kabupaten Gunungkidul di Wonosari, Dusun Banaran IX tak banyak memiliki potensi wilayah yang bisa digarap.

Seperti wilayah pedesaan di Gunungkidul pada umumnya, permasalahan kekeringan dan sulitnya akses transportasi menjadi persoalan utama di Dusun Banaran IX. Bisa dikatakan dusun ini merupakan daerah terisolir diantara pedukuhan-pedukuhan lain di kabupaten paling tenggara wilayah DIY ini.

Danramil Playen Kapten Suwardi memimpin pelaksanaan TMMD

Kepala Dusun (Kadus) Banaran IX, Supoyo mengatakan dari total 115 kepala keluarga yang ada, mayoritas warga bekerja sebagai petani ladang dan buruh serabutan. Selama ini diakuinya akses jalan yang ada sangat kurang memadai. Jangankan untuk menuju pusat kota, jalan ke pasar desa saja warga harus berputar sejauh 5 km.

“Ada jalan namun tanah dan sulit untuk dilalui. Jika ingin melewati jalan kabupaten yang ada, warga harus berputar dan itu tidak efektif bagi mereka yang ingin menjual hasil ladangnya karena tak sesuai dengan biaya transport,” ungkapnya.

Warga sebelumnya memang sempat melakukan pembangunan jalan baik secara swadaya maupun dana dari tingkat desa, namun kerena minimnya anggaran serta pengerjaan yang tak berkelanjutan membuat mimpi warga Banaran IX untuk memiliki jalan dusun tak pernah terwujud. Adanya TMMD Reguler ke-105 Kodim 0730 Gunungkidul ini ternyata mengangkat kesejahteraan warga sehingga mampu keluar dari keterisoliran.

“TMMD itu programnya jelas dan terukur dari segi anggaran maupun pengerjaannya karena dilakukan oleh TNI. Jumlah tentara yang dikerahkan juga banyak sehingga kami beserta warga dapat mengerjakannya dengan cepat,” jelasnya.

Supoyo juga menegaskan, warga dusunya sangat antusias dalam melaksanakan setiap tugas dalam TMMD Reguler ke-105 Kodim 0730 Gunungkidul ini. Bahkan warga merasa senang dapat berkumpul dan bergotong-royong di tengah para prajurit untuk memajukan Dusun Banaran IX.

Kehadiran Prajurit Harus Bawa Perubahan

Komandan Kodim (Dandim) 0730 Gunungidul, Letkol (Inf) Letkol Inf Noppy Laksana Armiyanto selaku Komandan Satgas (Dansatgas) TMMD Reguler ke-105 menegaskan dipilihnya Desa Banaran sebagai lokasi program yang dahulu bernama ABRI Masuk Desa (AMD) tersebut karena wilayah ini masih pra sejahtera. Kehadiran prajurit dalam TMMD Reguler ke-105 Kodim Gunungkidul ini diharapkan mampu menjadi penggerak dan memotivasi warga untuk melakukan pembangunan di desanya.

“Utamanya yakni bagaimana TMMD Reguler ini mampu menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama membangun bangsa bersama TNI dari daerahnya masing-masing. Selain itu semangat kemanunggalan TNI dan rakyat harus dikobarkan untuk persatuan dan kesatuan bangsa,” tegas Noppy Laksana Armiyanto didampingin Komandan Koramil (Danramil) 02 Playen Kapten (Inf) Suwardi.

Noppy Laksana Armiyanto mengungkapkan dalam pelaksanaan TMMD Reguler ke-105 Kodim 0730 Gunungkidul yang berlangsung sejak 10 Juli hingga 8 Agustus 2019 ini TNI tidak sendiri. Program ini terlaksana dengan lancar karena keterlibatan seluruh jajaran mulai dari Kepolisian, dinas terkait, pemerintah daerah hingga masyarakat.

Kehadiran prajurit dituntut mampu membawa perubahan

Dalam TMMD Reguler ke-105 Kodim 0730 Gunungkidul ini setidaknya ada beberapa sasaran pengerjaan fisik diantaranya pembuatan jalan cor blok sepanjang 138 meter yang menghubungkam Dusun Banaran IX dengan jalan desa, pembuatan talud sepanjang 660 meter, normalisasi jalan 500 meter, rehab pos kamling dan perbaikan masjid. Sedangkan sasaran non fisik dilakukan dengan penyuluhan bela negara, pengobatan gratis, pelatihan pengolahan hasil pertanian hingga pemahaman ancaman bahaya terorisme.

Dadim 0730 Gunungkidul menegaskan seperti yang tertuang dalam Undang-undang nomor 34 tahun 2004, TMMD merupakan operasi militer selain perang (OMSP) sehingga memungkinkan jajaran TNI di satuan kewilayahan untuk terjun langsung ke dalam masyarakat. Keberadaan prajurit dalam masyarakat dituntut membawa perubahan positif dan selalu mewujudkan kemanunggalan antara TNI dan rakyat. (Ivan Aditya)

BERITA REKOMENDASI