Tidak ada sumur, Warga Kecamatan Rongkop Kesulitan Air

WONOSARI, KRJOGJA.com- Kecamatan Rongkop termasuk wilayah paling timur Kabupaten Gunungkidul yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sejauh mata memandang maka akan disuguhi pemandangan berupa perbukitan dan bebatuan yang memenuhi areal persawahan serta pepohonan jati yang daunnya sudah mengering. 

Saat musim kemarau, masyarakat Rongkop yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani erpaksa menganggur karena ladang yang dimiliki tidak lagi ada air mengalir, bahkan di musim hujan sekalipun kadang dalam setahun hanya panen satu kali.  “Kalau sudah seperti ini tinggal singkong sama pohon jati yang bertahan, sebagian warga juga sudah merantau ke kota Jogja atau ke Solo jadi buruh bangunan,” ujar Esdianto warga Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Rabu (28/8).

Esdianto menambahkan, sejak bulan Maret air mulai sulit, saat ini setiap Kepala Keluarga (KK) sudah membuat Penampungan Air Hujan (PAH) yang dapat menampung air kurang lebih satu truk tangki 6.000 liter. Ada PAM milik kabupaten yang sumbernya di Wonosari tetapi airnya belum merata. 

“Berkali-kali masyarakat disini membuat sumur bor atau sumur galian tidak ada yang berhasil akhirnya tidak diteruskan, sebelumnya juga pernah diteliti di kedalaman 200 meter pun katanya juga tidak ada airnya,” tambahnya.

Melihat keadaan tersebut Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY secara rutin melakukan dropping air bersih di wilayah terdampak kekeringan di Gunungkidul, salah satu yang menjadi fokus perhatian adalah Kecamatan Rongkop- Gunungkidul. 

“Dalam dua hari ini kurang lebih sebanyak 48.000 liter air didistribusikan untuk Kecamatan Rongkop, salah satunya di Desa Melikan. Kita mengisi penampungan air untuk masjid dan penampungan umum milik warga,” ujar Naufal, relawan MRI yang turut mendistribusikan air bersih di Rongkop, Gunungkidul. (*)

BERITA REKOMENDASI