Vaksinasi Rendah, BIN Sasar 4 Kapanewon di Gunungkidul

Editor: Agus Sigit

WONOSARI, KRJogja.com – Sebanyak empat kapanewon di Gunungkidul, tingkat capaian vaksinasi covid-19 masih rendah. Sehingga menjadi sasaran penyisiran vaksinasi yang dilaksanakan Badan Intelejen Negara (BIN) dan Dinas Kesehatan(Dinkes) Gunungkidul. Harapannya nanti wilayah yang masih rendah akan semakin meningkat.

“ Empat kapanewon rendah capai tersebut meliputi Saptosari (62,54 persen), Karangmojo (64,02 persen), Tepus (64,65 persen), dan Patuk (66,35 persen),” kata BIN DIY Eko Susilo usai pelaksanaan vaksinasi di Kantor Dinkes Gunungkidul, Sabtu (04/12/2021).

Vakasinasi di Dinkes menyasar pelajar, mahasiswa dan ‘door to door’ warga. Kegiatan menyasar 500 peserta vaksinasi. Diungkapkan, hingga kurang dari sebulan di tahun 2021, BIN DIY mencatat capaian vaksinasi Gunungkidul cenderung kembali melambat. Masih terdapat sekitar 100 ribu warga sasaran yang belum tervaksin dosis 1. Sehingga Gunungkidul perlu mempercepat vaksinasi.

“Sesuai data Dinkes per 30 November 2021, dari 595.145 orang yang menjadi sasaran vaksinasi, 82,68 persen yang tervaksin Dosis 1. Artinya masih ada 17,32% atau sekitar 100 ribu warga sasaran yang belum tervaksin. Perlu menambah kecepatan lagi jika tidak ingin disebut rendah capaian vaksinasinya,” tambah Eko.

Dijelaskan, dalam bulan Desember ini, BIN DIY akan menyasar daerah daerah yang masih rendah tingkat capaian vaksinasinya. Setidaknya ada kuota 10 ribu sasaran yang akan ditebar, dan Kabupaten Gunungkidul mendapat kuota 3 sampai 4 ribu sasaran. “Kita ada kuota 10 ribu sasaran. 3 sampai 4 ribu di antaranya untuk Gunungkidul”, ujarnya.

Sementara itu berbagai upaya dan kebijakan diambil guna mencegah virus tersebut masuk ke Indonesia. Munculnya varian ini menjadi bukti bahwa COVID-19 tetap harus diwaspadai. Karena itu, meski pandemi dalam situasi landai di Indonesia, pemerintah meminta masyarakat terus menjaga protokol kesehatan dan segera melengkapi vaksinasi.

World Health Organization atau WHO menyatakan varian B.1.1.529 atau Omicron pertama kali ditemukan di Benua Afrika pada 24 November 2021. Hanya dua hari sesudahnya, varian ini telah dikategorikan sebagai variant of concern. Omicron disebut sebagai salah satu yang sangat cepat dalam penularan dan di berbagai negara, penelitian terus dilakukan untuk mempelajari varian baru ini.

Dalam Dialog Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN, Selasa (7/12/2021), Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi menggarisbawahi bahwa penyebaran Omicron sangat cepat. “Jumlah negara yang melaporkan sudah hampir 45 negara, jadi sangat cepat penyebarannya,” ujar Nadia.

Ia juga menjelaskan bahwa di beberapa negara tersebut, terdapat kasus di mana orang yang terinfeksi tidak memiliki riwayat perjalanan luar negeri. Karena itu Nadia mengingatkan, bahwa sejalan dengan pengetatan pintu masuk, masyarakat di dalam negeri juga harus tetap waspada.

Sedangkan terkait situasi di tanah air, Nadia menyebutkan, meski laju penularan rendah, namun varian Delta yang mendominasi virus COVID-19 di Indonesia masih terus bermutasi. Setidaknya 23 varian turunan telah teridentifikasi. Artinya, kata Nadia, upaya pengendalian seperti disiplin prokes, vaksinasi dan deteksi dini adalah keharusan. (Git/Ded)

 

BERITA REKOMENDASI