Tak Berkembang, Pengusaha Gula Semut Butuh Pohon Kelapa ‘Genjah’

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Minimnya sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) membuat perajin gula semut stagnan dalam menjalankan usahanya. Guna mengantisipasi semakin berkurangnya pohon kelapa akibat jarangnya peremajaan dan tidak tertariknya generasi muda menjadi penderes nira, maka pemerintah diminta melakukan penelitian dan riset sehingga permasalahan yang selama ini dihadapi perajin gula semut teratasi.

“Khusus SDA dalam hal ini pohon kelapa yang sekarang usianya sudah tua dan tinggi sehingga produksi nira semakin sedikit memang diperlukan terobosan baru. Sehingga ada kelapa jenis genjah. Pohonnya tidak terlalu tinggi tapi produksi niranya tidak tinggi,” kata pimpinan UD Sumber Rejeki yang memproduksi gula semut atau nira kelapa dan aren, Agus Wibowo di Pedukuhan Penggung Kalurahan Hargorejo Kapanewon Kokap, Selasa (18/2/2020).

Diungkapkan, jenis kelapa genjah sangat dibutuhkan karena pohon kelapa yang ada saat ini sudah tidak produktif lagi. Bahkan pada bulan-bulan tertentu ketersediaan nira dan gula kelapa tidak sebanding jumlah permintaan pasar lokal apalagi pasar Nasional dan eksport. “Dengan adanya kelapa genjah tentu upaya memenuhi bahan baku nira untuk pembuatan gula semut menjadi lebih mudah dan generasi muda diharapkan tertarik jadi penderes, karena tidak harus memanjat pohon kelapa yang tinggi,” ujarnya.

Pada era milenial saat ini generasi muda lebih memilih menjadi pegawai misalnya karyawan toko modern jejaring ketimbang jadi penderes nira. Padahal ungkap Agus penghasilan penderes lebih menjanjikan ketimbang jadi pegawai. Apalagi kalau impian petani memiliki pohon kelapa genjah bisa terwujud maka penderes tidak perlu lagi bersusah payah memanjat pohon kelapa yang tinggi tapi produksi niranya maksimal.

Pohon kelapa hibrida yang ciri khasnya pendek berbuah lebat tidak sesuai keinginan petani penderes nira, karena kelapa hibrida tidak produktif dalam memproduksi nira. “Kelebihan kelapa hibrida, kualitas degan atau kelapa mudanya memang bagus tapi bagi petani penderes dan perajin gula semut seperti saya tidak membutuhkan degan. Jadi pohon kelapa yang dibutuhkan masyarakat petani penderes nira adalah kualitas dan kuantitas niranya bagus dan untuk memenuhi itu memang perlu penelitian dan riset,” ujarnya.

Diakui nira produksi pohon kelapa yang ada saat ini memang sudah cukup bagus dan memenuhi kualitas standar untuk eksport tapi karena sudah tidak produktif lagi sehingga untuk memenuhi bahan baku nira berkualitas ekspor menjadi sangat sulit. Berbeda halnya dengan gula aren, ketersediaan bahan baku gula aren relatif banyak. “Khusus gula aren tidak ada masalah, karena ada kelompok tani di Kapanewon Samigaluh selalu mensuplai kebutuhan nira aren. Selain itu permintaan gula aren juga masih relatif sedikit. Sehingga untuk pembuatan gula aren masih cukup aman,” jelasnya menambahkan di Kalimantan sekarang sudah dikembangkan pohon aren genjah.

Sementara itu pemerintah merasa prihatin dengan tingginya angka kecelakaan (laka) para penderes. Sehingga untuk mencegah terjdinya laka maka pemerintah pusat melalui kementerian terkait pernah memberikan bantuan alat bagi para penderes. “Pemberian bantuan alat untuk memanjat kelapa agar penderes bisa menyadap nira sebagai bentuk kepedulian agar penderes tidak mengalami kecelakaan saat bekerja,” kata anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Gandung Pardiman saat menyerahkan bantuan beberapa waktu silam.

Selain memproduksi gula semut atu nira kelapa dan aren, UD Sumber Rejeki juga mengadakan pendidikan dan pelatihan pembuatan gula semut.
Disinggung tentang pemasaran, Agus mengunkapkan selain dengan sistem ‘off line’ juga ‘online’. “Alhamdulillah omzet penjual gula semut saat ini rata-rata lima ton perbulan. Sedangkan gula aren sekitar 500 kilogram per bulan,” ujarnya.(Rul)

BERITA REKOMENDASI