21 Desa di Kulonprogo Dilanda Kekeringan

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com  – Kulonprogo memasuki masa darurat kekeringan pada musim kemarau di tahun ini. Kekeringan melanda 21 desa tersebar di tujuh kecamatan yang berakibat 7.771 jiwa atau 4.008 kepala keluarga (KK) kesulitan mendapatkan air bersih.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Ariadi dan Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Suhardiyana mengatakan wilayah yang dilanda kekeringan meluas. Ariadi mengatakan untuk penanganan warga di wilayah kekeringan, BPBD mengusulkan kepada bupati mengeluarkan Surat Keputusan (SK) menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan di Kulonprogo.

Baca juga :

Kekeringan di Jogja Tahun Ini Terparah di Indonesia
Kekeringan Makin Panjang, Warga Bantul Minta Solusi Terkait Air Bersih

“Pemerintah perlu turun tangan untuk membantu warga yang kesulitan air bersih. Persediaan air bersih mulai menipis tetapi warga yang meminta bantuan masih tinggi,” ujar Ariadi di ruang kerjanya.

Suhardiyana menjelaskan prakiraan Badan Meteorologi Geofisika dan Klimatologi Agustus -September 2019 puncak musim kemarau. Pada akhir Oktober diperkirakan baru terjadi hujan merata di wilayah Kulonprogo.

Sedangkan dari hasil pemantauan di lapangan wilayah kekeringan melanda 21 desa tersebar di tujuh kecamatan. Masyarakat di wilayah kekeringan yang meminta bantuan air bersih mencapai 4.008 KK atau 7.771 jiwa.

“Selama ini pemberian bantuan air bersih ditangani secara sektoral. Laporan terakhir persediaan bantuan air bersih di Dinsos DIY telah habis dan bantuan dari donatur juga sudah menipis,” ujarnya.

Sebelumnya Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana, Dinas Sosial (Dinsos) Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (P3A) Kulonprogo, Sumiyati menjelaskan persediaan bantuan air bersih hingga akhir Agustus 2019 tinggal sekitar 56 tangki. Menurutnya, bantuan tersebut berasal dari pihak ketiga atau para donatur.

Bantuan dari Dinas DIY sebanyak 180 tangki telah habis didistribusikan untuk masyarakat di wilayah Kulonprogo. “Hingga saat ini belum menerima laporan dari Tagana yang mendistribusikan bantuan dari pihak donatur,” tutur Sumiyati. (Ras)

BERITA REKOMENDASI