Akses Transportasi YIA Tak Boleh Tertinggal

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Agar Bandara Internasional Yogyakarta/ Yogyakarta International Airport (BIY/ YIA) tidak bernasib sama dengan Bandara Internasional Jawa Barat, Kertadjati di Majalengka maka aksesibilitasnya harus maksimal. Sehingga calon penumpang dan masyarakat dapat dengan mudah mengakses BIY.

"Progres pembangunan fisik BIY sudah sangat bagus, saat ini hampir mencapai 70 persen. Sayangnya koneksi moda transportasi bandara internasional ini masih ketinggalan. Kalau kita ke Kulonprogo dari Yogya, perjalanannya cukup lama, sehingga perlu dicari solusi agar calon penumpang bisa lebih cepat sampai BIY," kata Wakil Ketua Komisi V DPR RI , Sigit Sosiantomo saat bersama rombongan kunker ke BIY, Senin (05/08/2019).

Mengingat masih tertinggalnya moda transportasi BIY, maka Komisi V DPR RI meminta pemerintah menyiapkan koneksi BIY dengan sarana transportasi yang ada. Selain itu juga mempersiapkan terkait mitigasi bencana.

Dijelaskan, para pengguna jasa penerbangan di BIY membutuhkan jalur kereta yang menyambung langsung ke bandara yang dilengkapi stasiun khusus. BIY ungkapnya bisa mencontoh Bandara Adisumarmo Solo yang sudah dilengkapi stasiun bandara.

"Kalau bisa direalisasikan, akan ada koneksi antara Stasiun Wates ke Stasiun Wojo, kemudian Stasiun Kedundang ke BIY. Keberadaan kereta api reguler bisa mengurangi kepadatan arus lalu lintas dari dan menuju BIY," terangnya.

Keberadaan jalan tol di Kulonprogo juga dinilai sangat penting karena bisa menghubungkan BIY dengan jalur tol trans Jawa yakni dari Bawen ke selatan menuju Kulonprogo atau dari Kartasura ke Yogya menuju Kulonprogo. Terkait rencana pembangunan jalan tol di Kulonprogo tersebut, Sigit mengatakan sampai saat ini Komisi V belum mendengar DED (Detail Engineering Design)  jalan tol atau kereta bandara, termasuk soal pembebasan tanahnya.

"Secepatnya, kami akan menggelar rakor dengan kementerian agar BIY tidak bernasib sama dengan Bandara Kertajati yang sepi penumpang akibat minim koneksi transportasi," Tegas Sigit.

Hal yang tidak kalah pentingnya yang harus diperhatikan betul oleh pemerintah adalah terkait mitigasi bencana, mengingat lokasi BIY  berdekatan dengan laut selatan. Masyarakat sekitar perlu diberi pelatihan tentang upaya penyelamatan diri dan evakuasi saat terjadi bencana gempa dan tsunami.

"Kalau bangunan bandaranya, saya kira sudah maksimal yang dilakukan dalam perencanaan pembangunan BIY. Bahkan bandara ini telah menyiapkan tempat evakuasi tapi yang belum dilakukan pelatihan kepada masyarakat,"  ungkapnya.

Sigit menilai BIY merupakan bandara yang luar biasa dan menjadi ikon DIY bahkan Pulau Jawa. Kalangan Komisisi V DPR RI berharap peresmian operasi BIY secara penuh bisa terlaksana dengan baik pada Juli 2020.

Sementara itu Dirut PT Angkasa Pura (AP) I, Faik Fahmi mengungkapkan, dukungan akses transportasi diperlukan dalam operasional BIY. Apalagi minat masyarakat untuk terbang melalui BIY saat ini cukup tinggi. "Idealnya kereta bisa masuk bandara pada akhir 2020," ujarnya.

Dalam kontrak dengan perusahaan pelaksana pembangunan BIY, PT Pembangunan Perumahan (PP), proyek tersebut akan selesai Juli 2020, tapi PT PP menyanggupi operasional penuh pada Desember 2019. Setelah itu secara bertahap penerbangan di Bandara Adisutjipto akan dipindahkan ke BIY dengan prioritas penerbangan domestik dari dan ke luar Jawa.

Ditambahkan, dampak nyata keberadaan BIY, pertumbuhan ekonomi Kulonprogo meningkat tajam, pada 2016 sebesar 5,2 persen dan pada 2019 sudah menjadi 10,6 persen. Selanjutnya, angka pengangguran dari 3,5 persen sekarang menjadi 1,4 persen.

"Di BIY pesawat besar dan berat dapat mendarat. Harapannya pesawat luar negeri dapat ke BIY, sehingga mampu meningkatkan ekspor produk DIY yang biasanya lewat Bali dan Jakarta, bisa langsung melalui BIY. Kemudian akan membuka potensi wisata DIY menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara," katanya.

Direktur Teknik PT AP I, Lukman F Laisa menambahkan, tentang mitigasi bencana, pihaknya telah berupaya mengurangi dampak tsunami di kawasan BIY. Yaitu membangun terminal dan fasilitas lain sejauh mungkin dari pantai, desain bangunan terminal lantai satu banyak bukaan sementara lantai dua lebih luas serta meletakkan kegiatan orang lebih banyak di lantai atas sekaligus untuk tempat evakuasi.

"Kami juga telah menyiapkan Early Warning Sistem atau EWS (sistem peringatan dini bencana) serta menyiapkan sistem evakuasi dan manajemen bencana," terangnya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI