Alasan Bandara NYIA Akan Fokus Penerbangan Internasional

YOGYA, KRJOGJA.com – PT Angkasa Pura I (Persero) akan fokus menjadikan New Yogyakarta International Airport (NYIA) sebagai bandara yang fokus pada penerbangan internasional. Bandara baru di Kulonprogo ini akan menduplikasi Bandara Ngurah Rai secara konsep.

Hal tersebut dikemukakan Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I (Persero) Devy Suradji di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Senin (25/09/2018). “Ada alasan yang kuat kenapa NYIA akan menduplikasi Bandara Ngurah Rai,” kata Devy.

Menurut Devy, di Indonesia saat ini bandara besar yang menjadi entry point penerbangan internasional baru Cengkareng dan Ngurah Rai. Di sisi lain, bandara Ngurah Rai di Bali diperkirakan pada tahun 2026 akan mencapai kapasitas maksimalnya yaitu 37 juta penumpang setahun.

Baca Juga : 

Angkasa Pura I akan Lebih Aktif di Asosiasi Bandara Dunia

Selanjutnya, kapastitas di Bandara Ngurah Rai tidak mungkin diperbesar karena ketika awal dibangun Bandara Ngurah Rai konsepnya adalah bandara end destination atau bandara tujuan akhir bagi para wisatawan. “Kenyataanya sekarang Bali selain menjadi end destination juga menjadi bandara penghubung,” kata Devy Suradji.

Orang-orang dari Australia akan transit dulu di Bali. Begitu juga orang-orang dari Eropa menuju Australia berhenti dulu di Bali. Hal sama juga dilakukan wisatawan yang akan ke berwisata ke daerah Indonesia timur transit dulu di Bali.

Artinya hingga tahun 2026 akan semakin banyak penerbangan yang menjadikan Bali sebagai penghubung ke daerah lain. “Dari pemikiran itu, perlu ada duplikasi dari Bandar Bali dalam artian dia menjadi bandara penghubung sekaligus menjadi tujuan akhir atau end destination terutama untuk pariwista. Dari semua bandara yang ada, secara portofolio Yogyakarta memenuhi syarat karena memiliki karakter mirip Bali,” kata Devy.

Karakter yang dimaksud yaitu Yogyakarta memiliki destinasi heritage seperti Bali. Begitu juga dengan potensi budaya, alam, memiliki bermacam kuliner, kesenian, kerajinan, belanja. “Selalu ada yang baru di Yogya. Banyak potensi wisata yang bermunculan. Bali memiliki kekuatan dikerajinan, begitu juga dengan Yogyakarta,” tegas Devy.

Bali maupun Yogyakarta, keduanya sudah dikenal dunia. "Persamaannya lagi, baik di Yogya dan Bali, industri yang menopang ekonomi adalah industri kecil,” kata Devy. Duplilkasi tersebut bukannya menjadikan Yogyakarta sebagai second destination setelah Bali, karena meski memiliki banyak persamaan, kedua daerah tersebut tetap memiliki perbedaan dalam sisi pariwisata.

Menurut Devy, alasan paling mendesak kenapa NYIA dibangun adalah kapasitas Bandara Adisutjipto yang seharusnya maksimalnya 1,8 juta penumpang, kini sudah 7,8 juta penumpang setahun.

Lebih lanjut Devy mengatakan nantinya di tahun-tahun awal NYIA beroperasi akan menargetkan 14 juta penumpang pertahun. Diperkirakan saat Bandara Ngurah Rai mencapai jumlah penumpang maksimal 37 juta penumpang pertahun, Yogyakarta mencapai 20 juta penumpang pertahun.

Corporate Communication PT Angkasa Pura I Awaluddin menambahkan pembangunan NYIA pada April 2019 direncanakan dari sisi udara (airside) selesai 100 persen dan sisi darat (landside) atau terminal sudah mencapai 35 persen. “Pada April 2019 sudah bisa difungsikan untuk penerbangan internasional,” ujar Awaluddin. (Apw)

BERITA REKOMENDASI