Angka Perceraian Meningkat Saat Pandemi, Ini Kata dr Hasto

Editor: KRjogja/Gus

KEPALA Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) RI, dr H Hasto Wardoyo SpOG (K) menyatakan, sejak tahun 2010 hingga 2015 angka perceraian di seluruh Indonesia termasuk di DI Yogyakarta mengalami kenaikan 20 persen. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan banyak pihak.

“Fenomena ini memang cukup memprihatinkan kita semua. Coba bayangkan, di Kulonprogo setiap tahun rata-rata pernikahan hanya 2.500-2.600, sementara angka perceraian pertahun bisa mencapai 600. Itu contoh di Kulonprogo. Artinya selama lima tahun terakhir, tren perceraian memang fakta,” ungkap Dokter Hasto saat berbincang santai di Dapur Semar Resto Wates, baru-baru ini.

Didampingi Wakil Bupati (Wabup) Kulonprogo Fajar Gegana, Hasto mengungkapkan, kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika terjadi pandemi virus Korona pada 2019. “Ketika ada pandemi virus Korona, patut diduga menjadi salah satu pemicu timbulnya konflik dalam keluarga,” tegasnya.

Mengapa? Karena hampir sekitar 28 persen problem perceraian sumbernya masalah ekonomi, meskipun lebih dari 50 persen karena percekcokan berulang-ulang dalam waktu cukup lama. Ketika ada pandemi virus Korona maka persoalan ekonomi semakin berat sehingga, memicu terjadinya perselisihan dalam keluarga,” ungkap Hasto Wardoyo didampingi anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kulonprogo, Aris Syarifuddin.

Ia membenarkan faktor selingkuh memang menjadi salah satu pemicu perceraian, tapi sikap mendua hati baik di kalangan suami maupun istri tersebut tidak dominan. “Justru ada faktor yang menarik hasil analisis pada 2017, yakni ditinggal pergi. Salah satu pasangan pergi, entah itu menjadi tenaga kerja di mancanegara. Jadi perginya salah satu pasangan tersebut menjadi faktor dominan perceraian, tapi posisinya sedikit di bawah masalah percekcokan, tutur mantan Bupati Kulonprogo tersebut.

BERITA REKOMENDASI