Batik Prada Geblek Renteng Mulai Dilirik Pasar Luar Negeri

Editor: Agus Sigit

MOTIF batik bernama geblek renteng sudah tak asing lagi. Terlebih masyarakat yang tinggal di Kulonprogo, sebab dijadikan batik khas kabupaten setempat. Tampilan motif geblek renteng kian menawan ketika dipadu dengan batik prada, misalnya kental dengan nuansa keemasan.

Menurut pemilik usaha pembuatan batik asal Lendah Kulonprogo, Agus Fathurahman, batik prada awalnya hanya dikenakan di lingkungan Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Namun dalam perkembangannya, pembuat dan pemakai batik ini tak hanya di lingkungan kraton saja. Selain itu, konon bahan yang digunakan untuk menghias/melapisi kain batik prada sebagian besar dibuat dari serbuk emas asli, tapi sekarang banyak yang memakai cat atau tinta emas.

“Yang jelas nuansa warna keemasan pada batik prada cocok dipadu aneka motif, termasuk geblek renteng,” kata Agus sembari menunjukkan batik prada yang ada motif geblek rentengnya.

Ditemui saat mengikuti suatu pameran dan bazaar di kawasan Kasihan Bantul, baru-baru ini, Agus menjelaskan, batik prada dengan motif geblek renteng harganya masih terjangkau. Konsumennya tak hanya warga di Kulonprogo, namun ada juga dari daerah lain. Bahkan ada yang membawa sampai ke luar negeri. Di tempatnya sendiri saat ini dibanderol kisaran Rp 600.000 perlembar kain dengan lebar 110 cm dan panjang 2 meter.

“Ketika saya diajak pameran di Moskow yang diselenggarakan Forum Indonesia-Rusia, kain batik prada dengan motif geblek renteng juga banyak yang membeli. Tak ketinggalan motif geblek renteng, seperti angka delapan yang berbaris ketika dipadu dengan warna-warna lain mulai dari warna cerah sampai gelap juga banyak yang senang,” beber Agus.

Ditambahkan, selain geblek renteng sebagai motif khas Kulonprogo, batik galaran serta grinsing juga dikenal sebagai motif tradisional Kulonprogo. Kekhasan galaran, adanya garis-garis kecil yang berada di sela-sela aneka motif seperti wujud bunga, daun, kupu-kupu maupun burung. Sedangkan kekhasan grinsing, yakni adanya bulatan-bulatan kecil di antara motif-motif bunga, daun maupun satwa.

“Untuk galaran dan grinsing, biasa kami buat wujud batik tulis full, sehingga harganya minim kisaran Rp 1 juta per lembar kain,” jelasnya.

Adapun batik kombinasi cap dan tulis biasa lebih murah dibanding yang tulis full. Masih lebih murah lagi, yakni full batik cap. Sedangkan yang hanya printing, tak menggunakan lilin malam dalam proses pembuatannya tak digolongkan dalam batik, namun tekstil bermotif batik.

“Kalau di tempat saya, hanya ada batik cap, cap kombinasi tulis dan batik tulis. Harga paling rendah Rp 100.000 perlembar kain,” tambahnya. (Yan)

BERITA TERKAIT