Bedah Buku Biografi ’50 Tahun Mengabdi Jejak Perjalanan Drs Sutedjo’

Editor: Ivan Aditya

SOSOK sederhana Bupati Kulonprodo Drs H Sutedjo memang sudah lama diketahui kalangan masyarakat Kulonprogo. Karena sikapnya yang kalem dan tidak ambisius tapi karirnya demikian bagus mengundang perhatian sejarawan Dr Ahmad Athoillah MA, sehingga membuat buku biografi ’50 Tahun Mengabdi Jejak Perjalanan Drs Sutedjo’.

“Saya melihat sosok dan karir Pak Tedjo (Sutedjo-Red-) luar biasa. Sejak masih mahasiswa kemudian menjadi pembantu carik hingga bupati. Melalui buku ini saya ingin menggambarkan sekaligus memberikan contoh kecil perjalanan Pak Tedjo yang lahir dari keluarga lurah penuh kejawaan. Di tengah kemajuan teknologi saat ini tentu kita berharap banyak generasi muda yang jadi pejabat tapi memegang teguh budaya Jawa,” kata Athoillah disela Peluncuran dan Bedah Buku Biografi Drs Sutedjo ’50 Tahun Mengabdi, Jejak Perjalanan Sutedjo’ di Balai Kalurahan Wijimulyo, Nanggulan, Jumat (20/05/2022) kemarin.

Kisah perjalanan 50 tahun Sutedjo mengabdi ditulis dalam buku setebal lebih dari 400 halaman. Proses riset berlangsung dua bulan bersama Komunitas Penggiat Sejarah Kulon Progo (KPSKP). Penulis buku, Athoillah mengungkapkan dari delapan bab yang paling menonjol terdapat di bab awal, mengisahkan karir Sutedjo saat menjabat Lurah Wijimulyo.

“Saat itu selain menjabat lurah, pak Tedjo juga kuliah kemudian menikah dan bisa lulus UGM,” ungkapnya.

Dipilihnya Balai Kalurahan Wijimulyo sebagai lokasi kegiatan tidak lepas dari titik awal karir pengabdian Bupati Kulonprogo periode 2019-2022 Drs Sutedjo yang akan mengakhiri masa jabatannya pada Minggu (22/05/2022). Bupati Sutedjo mengungkapkan, sebelum menjadi orang nomor satu di Kulonprogo, perjalanan karirnya berawal sebagai Pembantu Carik Wijimulyo pada 1976-1988.

Setelah diminta oleh tokoh masyarakat Wijimulyo yakni Winoto Negoro agar dirinya mendaftar PNS dan diterima, suami Dra Sri Wahyu Widati itu kemudian menjabat Kasubag Perangkat dan Administrasi Desa, Bagian Pemdes, Setda Kulonprogo (1991-1993). Kemudian jadi Sekretaris Camat Sentolo, Camat Temon, Kabag Pemdes Setda Kulonprogo, Assekda Bidang Pemerintahan dan Kesra Kulonprogo.

Kemudian menjabat Wabup Kulonprogo mendampingi Bupati dr Hasto Wardoyo pada 2011-2016 dan periode 2016-2019. Saat dr Hasto dilantik jadi Kepala BKKBN oleh Presiden Jokowi 1 Juli 2019 jabatan bupati akhirnya dipegang Drs Sutedjo untuk masa bakti 2019-2022.

Awalnya Bupati Sutedjo tidak setuju rencana pembuatan buku biografi yang mengisahkan perjalanan karirnya dengan alasan tidak layak perjalanan hidupnya dibuat buku. Tapi menyadari ke depan bisa menginspirasi generasi muda Kulonprogo, akhirnya Sutedjo menyetujui pembuatan buku tersebut.

“Harapan saya sederhana dan tidak muluk-muluk. Buku yang menceritakan perjalanan hidup saya nanti bisa menginspirasi anak muda dalam menjalani kehidupan dan berkarir di semua sektor. Mudah-mudahan dari yang sedikit bisa bermanfaat. Tidak ada kepentingan politik apa pun dalam pembuatan buku biografi saya. Semata-mata hanya untuk memberikan inspirasi generasi muda. Bahwa sesungguhnya sesuatu yang besar pasti dimulai dari hal kecil, yang banyak itu hanya kumpulan yang sedikit-sedikit dan garis panjang itu hanya kumpulan titik-titik. Seperti halnya saya memulai karir dari pembantu carik itupun disuruh pak carik waktu itu,” ungkapnya

Buku Biografi Jejak Perjalanan Sutedjo dibedah pakar-pakar sejarah, Prof Dr Haryanto (Guru Besar Bidang Politik dan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM) dan Prof Dr Bambang Purwanto (Guru Besar Bidang Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM) dan dimoderatori Den Baguse Ngarsa.

Prof Haryanto banyak mengungkapkan kisahnya sebagai teman Sutedjo waktu kuliah. Sosok Sutedjo katanya merupakan pribadi pendiam. Pertemuan dengan istrinya yang akrab disapa Yayuk cukup menarik. Di satu sisi Sutedjo pendiam sementara Yayuk grapyak atau ramah.

Keduanya bertemu saat sang Yayuk KKN di Wijimulyo dan Surtedjo menjadi lurah muda berumur 21 tahun. “Sejak dulu penampilan Mas Tedjo begini, sederhana. Ibarat pepatah tidak pernah kacang ninggal lanjaran. Buktinya malam ini Mas Tedjo tidak melupakan Wijimulyo di akhir masa baktinya masih mengingat semuanya, itu penafsiran saya,” tutur Haryanto.

Sedangkan Prof Dr Bambang Purwanto mengatakan, Sutedjo contoh birokrat tulen, perjalanannya jika dikuak lebih dalam diyakini bisa meruntuhkan teori yang sudah ada sebelumnya. Menjadi mahasiswa Fisipol UGM, menjadi perangkat kalurahan di usia muda. Sosok perjalanan karir Sutedjo layak menjadi contoh generasi muda saat ini. (Asrul Sani)

BERITA REKOMENDASI