Bulan Ruwah, Pedagang Bunga Tabur Bermunculan

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Pedagang bunga tabur bermunculan di sekitar Pasar Wates seiring meningkatnya permintaan masyarakat pada bulan Ruwah (tahun Jawa) untuk ‘nyekar’ atau mengirim doa ke makam leluhur. Pedagang bunga tabur banyak dijumpai mulai dari halaman Pasar Wates, sampai di perempatan jalan depan Stasiun Wates.

Jenis bunga tabur yang didasarkan setiap pendatang sama, meliputi bunga mawar, melati, kenanga, kanthil, selasih, minyak wangi dan keperluan lain untuk mengirim bunga ke makam. Sejumlah pedagang mengungkapkan setiap bulan Ruwah (tahun Jawa) banyak pedagang berjualan bunga tabur.

Dalam satu minggu terakhir permintaan meningkat dibandingkan hari biasa. Sehari menjelang puasa permintaan bunga kembali normal.

Sarjiah (46), seorang pedagang bunga tabur di perempatan depan Stasiun Wates mengungkapkan awal-awal bulan Ruwah, sehari hanya mampu menjual bunga tabur antara 20 sampai 25 kilogram (kg). Memasuki pertengahan Ruwah, bisa menjual bunga dari berbagai jenis hingga sekitar 50 kg.

”Sudah sepuluh hari berjualan bunga tabur. Sampai pertengahan Ruwah ada peningkatan permintaan. Sampai hari ini sudah habis sekitar 50 kg. Untuk bunga mawar sendiri sudah habis 15 ikat,” ujar Sarjiah.

Untuk memenuhi permintaan, katanya setiap hari harus kulakan di Pasar Beringharjo. Agar bunga tetap segar dari kulakan sehari harus habis di hari itu juga. Meskipun permintaan masyarakat tinggi, harga bunga masih stabil di kisaran Rp 150 ribu per kg.

Jangkung (60) dan Bejo (53) pembeli bunga tabur yang ditemui terpisah mengungkapkan tiap tahun melaksanakan ziarah kubur ke makam para pendahulu dan saudara yang telah meninggal dunia. Selain menabur bunga, mendoakan akan segala kesalahan dan dosa almarhum.

”Keluarga rutin setiap Ruwah mengadakan ziarah kubur. Tradisi ini dijadikan introspeksi kita, dikemudian hari juga akan mengalami seperti almarhum. Kita mendoakan agar diampuni segala dosa di masa hidup almarhum,” tutur Untung. (Ras)

BERITA REKOMENDASI