Cegah Stunting, Calon Pengantin Siap Nikah dan Hamil

WATES, KRJOGJA.com – mempercepat penurunan angka stunting, calon pengantin atau catin dihimbau tidak hanya siap nikah tetapi juga siap hamil. Mereka wajib memiliki kesehatan lahir dan batin yang baik, paham informasi yang benar tentang kapan akan memiliki anak, termasuk jumlah anak dan jarak kelahirannya serta pola asuh yang tepat.

Catin menjadi salah satu fokus sasaran program prioritas stunting karena merekalah yang akan melahirkan sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika Wiryanta menegaskan guna mengejar target penurunan angka stunting pencegahan stunting harus menjadi perhatian seluruh masyarakat, khususnya calon pengantin, untuk menyongsong bonus demografi 2030.

“Di mana di tahun itu (2030) komponen dari pada penduduk kita telah memasuki masa-masa yang luar biasa. Masa-masa yang produktif, di mana hal tersebut jarang terjadi, hanya terjadi di beberapa negara saja. Pada tahun itu Indonesia akan sangat diuntungkan dalam hal bonus demografi,” ujar Wiryanta dalam webinar Kepoin Genbest: Siap Nikah, Siap Hamil, Kamis (17/3).

Hadir dalam pertemuan tersebut Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Muda Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, dr. Aris Nugraha dan Ketua Badan Pengurus Daerah Asosiasi Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara.

Wiryanta mengatakan, penurunan prevalensi angka stunting harus dikejar karena tahun 2021 masih berada di angka 24,4 persen sedangkan Presiden Joko Widodo menargetkan angka prevalansi stunting turun hingga 14 persen di tahun 2024. “Memerlukan kerja keras bagi semua pihak karena waktu yang tinggal sedikit untuk memenuhi target tersebut,” katanya.

Menurut dr. Aris Nugraha, 3 (tiga) bulan sebelum menikah calon pengantin selain mempersiapkan pernikahan juga harus memberikan perhatian pada kesehatan. “Tiga bulan sebelum menikah adalah waktu yang ideal mempersiapkan semuanya. Persiapan pernak-pernik pernikahan sampai urusan kesehatan seperti kesehatan sperma dan reproduksi calon ibu,” katanya.

BKKBN mengkampanyekan Empat ‘Terlalu’ (4T) dalam pencegahan stunting yaitu Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat, dan Terlalu banyak. Terkait dengan hal ini calon pengantin diharapkan memiliki kesehatan lahir dan batin yang baik, paham informasi yang benar tentang kapan akan memiliki anak, termasuk jumlah anak dan jarak kelahirannya serta pola asuh yang tepat.

BKKBN dalam pemeriksaan kesehatan tidak akan mempersulit ataupun menggagalkan orang menikah. Apabila ada yang tidak memenuhi syarat untuk hamil maka BKKBN tidak melarang untuk menikah tetapi akan memberikan saran untuk tidak hamil dahulu sebelum kesehatannya memenuhi syarat.

GKR Bendara mengatakan proses perkenalan di masa pranikah sangat penting untuk merumuskan rencana-rencana masa depan bagi calon pengantin. Misalnya, membahas aspek finansial, pekerjaan suami atau istri, hingga target atau rencana memiliki anak. Tujuannya agar aspek ekonomi dapat menopang tumbuh kembang anak sejak bayi.

“Tipsnya, rencanakan dan pikirkan dengan matang sebelum menikah. Rencanakan financial freedom. Dua-duanya (suami dan istri) harus memiliki uang simpanan masing-masing,” ujarnya.

Sebelumnya Jumat (11/3), Pemerintah meluncurkan Program Pendampingan, Konseling, dan Pemeriksaan Kesehatan dalam Tiga Bulan Pra Nikah kepada calon pengantin. Pemerintah melalui BKKBN dan Kementerian Agama menggerakan Tim Pendamping Keluarga dan penyuluh agama yang tersebar di seluruh Indonesia untuk membantu calon pengantin menjalani seluruh proses pemeriksaan, termasuk input data kesehatan ke Aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil).

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) terhitung sejak janin hingga anak berusia dua tahun.

Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Stunting harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kemampuan kognitif anak tidak maksimal yang disertai perkembangan fisik terhambat. (*)

 

BERITA REKOMENDASI