Danlanal Yogyakarta Pimpin Program Potensi Maritim

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Komandan Lanal (Danlanal) Yogyakarta Kolonel Marinir Harry Indarto didampingi Ketua Cabang 8 Korcab V Daerah Jalasenastri Armada (DJA) II Neneng Harry Indarto melaksanakan Program Potensi Maritim dengan melepasliarkan ratusan anak penyu atau tukik di Pantai Congot Kapanewon Temon.

“Di luar tugas pokok dan fungsi (tupoksi) bidang pertahanan, TNI AL ikut membantu dalam hal lain. Salah satunya program pelepasan tukik yang dilaksanakan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Yogyakarta, sebagai upaya melestarikan penyu khususnya yang ada di pesisir Pantai Kulonprogo,” kata Kolonel Marinir Harry Indarto, Rabu (16/12/2020).

Dalam pelaksanaan pihaknya menggandeng Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Muspida) Kulonprogo dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY serta sejumlah unsur yang terlibat langsung dalam upaya konservasi penyu di Kulonprogo. “Sekitar 140 tukik jenis lekang yang kami lepaskan ke laut sebagai upaya melestarikan populasi penyu agar tidak punah,” tegasnya.

Menurutnya penyu berperan sebagai penyeimbang ekosistem laut. Satwa yang dilindungi tersebut membantu tumbuh kembang mahluk laut lainnya dengan memberikan nutrisi secara tidak langsung.

“Saat berenang penyu mengeluarkan zat-zat yang jadi santapan para plankton yang notabene penyumbang oksigen terbesar di Bumi. Sehingga kehadiran penyu sangat dibutuhkan dalam pelestarian kehidupan laut,” ujarnya.

Keberadaan penyu di Pantai Congot juga jadi potensi wisata. Pihaknya melihat selain terkenal dengan keindahan pantainya, kawasan Pantai Congot juga menyimpan puluhan sarang penyu yang bisa dijadikan destinasi wisata edukasi. “Demi pengembangan konservasi penyu di Congot ke depan kami akan selalu terlibat dalam setiap kegiatan,” tuturnya.

Sementara itu Kepala BKSDA DIY Muhammad Wahyudi mengapresiasi program pelestarian penyu yang dilakukan Lanal Yogyakarta. Menurutnya konservasi memang harus dilakukan semua pihak, kalau tidak maka habitat penyu bisa hilang.

“Pantauan kami selama kurun waktu lima tahun, 2015-2020 terjadi penurunan jumlah penyu yang bertelur di pesisir Kulonprogo. Kondisi tersebut perlu perhatian semua pihak. Satu-satunya cara agar habitat penyu tetap ada adalah dengan menjaga kelestarian lingkungan di lokasi tersebut,” kata Wahyudi.

Karena itu pihaknya mengimbau masyarakat agar berperan aktif ikut dalam pelestarian penyu. Apalagi dari tujuh jenis penyu di dunia, enam di antaranya ada di Indonesia. Khusus di wilayah pesisir Kulonprogo didominasi dua jenis penyu, penyu hijau dan lekang.

Ironisnya habitat dua penyu tersebut semakin hilang karena ulah manusia. “Musuh terbesar penyu itu bukanlah hewan lain melainkan manusia,” tegasnya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI