DBD Memprihatinkan, Kesadaran PSN Perlu Ditingkatkan

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Situasi Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kulonprogo tahun 2021 hingga akhir April tercatat sebanyak 75 penderita dan dua diantaranya meninggal. Terhadap hal itu, kesadaran masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) masih perlu ditingkatkan lagi.

“Kasus DBD tahun 2021 ini cukup memprihatinkan, karena setelah tahun 2020 meninggal tiga, dan 2021 hingga April sudah dua yang meninggal. Yakni Februari kemarin meninggal 1 (usia 7 bulan) warga Kalurahan Bendungan di RSUP Sardjito dan satu lagi (13 tahun) warga Kelurahan Wates meninggal di RS Kharisma Wates,” terang Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo drg Baning Rahayujati MKes, saat dikonfirmasi Minggu (02/05/2021).

Kegiatan yang sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) adalah fogging di sekitar wilayah kasus, karena kasus di Durungan ini setelah dilakukan penyelidikan epidemologi ternyata ditemukan ada 4 anak lain yang mengalami dengan gejala yang sama. Keempatnya dirawat di RS Kharisma, di RSUD Wates, RS Bethesda, dan RS Panti Rapih.

Selain melakukan fogging, juga dilakukan penyuluhan kepada masyarakat agar kembali mengaktifkan lagi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) baik yang kader di masing-masing RT, disosialisasikan pula program satu rumah satu Jumantik. Sebab hasil pemeriksaan Angka Bebas Jentik (ABJ) di kedua wilayah yang ada dua kasus meninggal tersebut sangat jauh dari target. Yakni ABJ kasus kemarin 82 persen, padahal target lebih dari 95 persen. Sedangkan justru di kasus yang pertama ABJ-nya hanya 57,1 persen.

“Jadi kesadaran masyarakat untuk melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) masih perlu ditingkatkan, terbukti dari ditemukan jentik masih jauh target di mana di wilayah tersebut tidak berisiko terjadinya penularan,” tandas Baning.

PSN selain 3M menutup, menguras dan mengubur, juga diikuti menghitung kontainer/bak penampungan air, satu rumah dinilai aman dari penularan adalah jumlah bak yang ada jentiknya harus kurang dari 5 persen baik di dalam/luar rumah, dengan cara dilihat ada jentik atau tidak.

Lebih lanjut Baning menuturkan, untuk kasus DBD tahun 2021 sebanyak 75, terbanyak ada di wilayah Kapanewon Wates 16, Nanggulan 15, Panjatan 10, Galur 7, Temon 6, Pengasih 5, Girimulyo 4, Kokop 4, dan Lendah 3. Di Kulonprogo yang endemik dan sporadik cukup banyak. Endemis artinya setiap tahun ada kasus, Wates termasuk dalam endemis.

“Bila mengikuti pola enam tahunan maka tahun 2021 belum banyak kasus, tetapi diperkirakan di tahun 2022. Tapi ini dari tahun ke tahun meningkat. Tahun 2018 ada 109 kasus, 2019 terdapat 296, 2020 sebanyak 347 diantaranya 3 meninggal,” ucapnya. (Wid)

BERITA REKOMENDASI