DBD, Terjadi Perluasan Endemis

KULONPROGO, KRJOGJO.com – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kulonprogo tahun 2017 turun dibandingkan 2016. Tahun 2017 hingga bulan November terdapat 85 kasus dengan 1 kematian, sedang tahun 2016 sebanyak 381 dengan 2 kematian. Meski DBD turun, tapi daerah endemis DBD sekarang ada perluasan.

Dikatakan drg Baning Rahayujati MKes Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo, tahun sebelumnya DBD ada di dataran rendah seperti wilayah Kecamatan Wates, Pengasih, Nanggulan. Tapi 2017 ada perluasan di wilayah pegunungan Menoreh yakni Kokap, Girimulyo, dan beberapa desa di Kalibawang dan Samigaluh sudah mulai ada kasus karena penularan setempat.

"Tahun-tahun sebelumnya kasus yang ada di wilayah pegunungan karena anak sekolah atau yang bekerja berada di kota, namun mulai tahun ini terbukti tidak kemana-mana terkena DBD, artinya kena DBD karena di sana," ujar Baning, Senin (4/12/2017).

Dijelaskan, survei terhadap nyamuk oleh Balai Vektor, memang di wilayah Kokap mulai ditemukan nyamuk aedes, dimana sebelumnya aedes hidupnya di dataran rendah. "Permasalahan tahun 2017 secara kasus menurun, secara meluas ke daerah pegunungan," tandasnya.

Permasalahan di Kulonprogo, lebih lanjut Baning, sebenarnya adalah masih tingginya jentik di sekitar rumah. Hasil survei angka bebas jentik (ABJ) di angka 70 persen, sementara standar nasional 95 persen, sehingga masih ada 30 persen tandon air yang mengandung jentik, maka terjadinya penularan masih sangat tinggi.

"Masyarakat bisa berupaya  dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara mandiri dengan program satu rumah satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Upaya tahun 2017 mulai mengaktifkan kembali jumantik sekolah, sudah disosialisasikan terutama sekolah yang ada di daerah endemis untuk kembali mengaktifkan jumantik. Tahun 2018 kami akan melakukan pelatihan anak-anak untuk jumantik yang diharapkan nanti menjadi jumantik di sekolah maupun lingkungan," kata Baning.

Terhadap musim penghujan, DBD terjadi biasanya pada awal awal dan akhir. Di saat hujan deras air mengalir, pada awal/akhir musim penghukan terjadi genangan air, virus ini mampu membentuk kapsul dan ketika ada air akan menetas, ini terjadi di awal musim penghujan. Sedangkan di akhir mulai ada genangan yang tidak terbawa air, sehingga menjadi tempat berkembang telur menjadi jentik dan nyamuk.

"Di musim hujan justru malah turun, dan biasanya mulai banyak kasus pada Januari hingga April. Kalau tahun 2017 ini hujan sepanjang tahun," ujarnya sembari menambahkan yang terpenting di masyarakat adalah bagaimana menghilangkan tempat perlindungan nyamuk, dikuras paling lama 7 hari.(Wid)

 

BERITA REKOMENDASI