Debit Air Sungai Progo Turun

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Debit air Sungai Progo yang dialirkan melalui intake atau pintu air Bendung Sapon di Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, hanya mampu mengairi sebagian areal persawahan yang seharusnya mendapatkan pengairan untuk menanam padi. Petugas Intake Bendung Sapon, Subagyo mengungkapkan pintu air Bendung Sapon sudah dibuka dengan kapasitas 4,8 meter kubik per detik. Debit air dari Sungai Progo yang mengalir ke saluran pintu air tidak bisa penuh.

“Banyak petani yang datang ke petugas intake Bendung Sapon. Sudah waktunya tanam padi, sawah belum mendapat pengairan. Pintu air sudah dibuka penuh tetapi air dari Sungai Progo yang mengalir ke saluran tidak bisa penuh,” ujar Subagyo.

Baca juga :

Tim Wates Juara Tenis Lapangan Porkab

Nguri-uri Budaya Sambil Berdakwah, Anggota DPD RI 'Ngethoprak' di Kulonprogo

Menurutnya, air tidak bisa mengalir penuh disebabkan terjadi penurunan debit air dari Sungai Progo. Selain di intake Bendung Sapon, penurunan debit air untuk pengairan akibat dampak musim kemarau juga terjadi di intake daerah lain. Saluran induk intake Bendung Sapon, katanya mampu mengairi sawah seluas 1.859 hektare (ha) di wilayah Kecamatan Lendah, Galur dan sebagian sawah di wilayah Kecamatan Panjatan.

Sementara berdasarkan data pemantauan terakhir di intake Bendung Sapon, debit air yang mengalir hanya sekitar 1,8 meter kubik per detik. “Paling tidak debit air 4 meter kubik per detik untuk mengairi sawah seluas itu,” jelasnya.

Dampak penurunan debit air Sungai Progo yang dialirkan ke intake Bendung Sapon dirasakan oleh para petani yang menggarap sawah di Desa Banaran, Kecamatan Galur. Petani di wilayah tersebut sudah mulai menebar benih dan mengolah sawah untuk menanam padi di musim tanam (MT) pertama. Air yang dialirkan ke saluran irigasi, tidak sampai ke persawahan di Desa Banaran.

“Gabah yang ditebar di persemaian mulai tumbuh. Sawah yang akan ditanami masih kering. Air yang dialirkan ke saluran tidak sampai ke sawah,” ujar Suyatno, Ketua Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Banaran.

Saryono, petani warga Banaran mengungkapkan hal yang sama. Sawah yang digarap seluas kurang lebih 1.400 meter persegi masih kering. Air dari saluran irigasi Bendung Sapon belum sampai ke sawah. (Ras)

BERITA REKOMENDASI