Era Revolusi Industri, Jalankan Profesi Dokter Merasa Tidak Nyaman?

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Menjalankan profesi sebagai dokter di era revolusi industri 4.0 (four point zero) dituntut disiplin dan komunikatif setiap akan mengambil tindakan pengobatan terhadap pasien maupun anggota keluarga pasien. 

Hal tersebut terungkap pada acara seminar dan bakti sosial memperingati Hari Bhakti Dokter Indonesia (HBDI) 2019 yang diselenggarakan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kulonprogo di Wisma Kusuma Wates, beberapa waktu lalu. 

“Profesi dokter di era revolusi industri 4.0 merasakan tidak nyaman. Ada ketidakpuasan dari pasien atau anggota keluarga pasien, menggugat dokter dengan tuduhan malpraktek,” ujar dr Heni Suryadi, Ketua IDI Cabang Kulonprogo.

Menurutnya, menjalankan profesi dokter dituntut disiplin dan selalu mengkomunikasikan setiap akan mengambil tindakan ke pasien dan anggota keluarga terdekat pasien. “Kuncinya disiplin dan komunikasi. Menjalankan profesi dokter tidak ada yang kebal hukum,” jelasnya.

Seminar yang mengangkat tema implementasi Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) serta Tinjauan Medikalegal Prakter Kedokteran, terlihat menjadi perhatian serius para dokter yang mengikuti acara tersebut.

Ketua IDI Wilayah DIY Joko Murdiyanto yang menghadiri cara tersebut mengakui di saat ini tidak nyaman menjalankan profesi dokter. Selain rentan dihadapkan hukum, tuduhan atau dugaan yang tersebar di media sosial tidak terbendung menjadi bola liar.

Menurutnya, para dokter menjalankan profesi dokter diharapkan melakukan secara profesional. Mengedepankan SOP, sumpah dokter, kode etik, segala peraturan perundang-undangan mengenai kedokteran dan kesehatan. 

Segera melaporkan ke IDI caban atau wilayah jika ada anggota dihadapkan hukum akibat menjalankan profesi dokter. Tim advokasi dari IDI akan berusaha membangu menyelesaikan. 

“Sudah ada beberapa kali, dokter digugat karena tuduhan melakukan malpraktek. Jangan sampai dokter sudah benar menjalankan profesinya dihadapkan ke polisi dan jaksa,” tutur Joko Murdiyanto.(Ras)

BERITA REKOMENDASI