Fakta Terbongkar, Korban Kerajaan Agung Sejagat Kapok!

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Kasnan (40) warga Pedukuhan Conegaran Desa Triharjo Kapanewon Wates tidak pernah menyangka jika organisasi yang diikutinya selama ini merupakan Keraton Agung Sejagat (KAS). Setahu dirinya kelompok tersebut fokus bergerak dibidang sosial kemasyarakatan, sehingga meskipun harus membayar uang jutaan rupiah dari meminjam dengan orang lain, Kasnan tetap melanjutkan niatnya bergabung dengan organiasi tersebut. 

Baca Juga: Ganjar Pranowo Tanggapi Berdirinya Keraton Agung Sejagat

"Kapok, saya menyesal sekali ternyata berakhir seperti ini (kasus hukum-Red.)," katanya kepada wartawan di rumahnya, baru-baru ini.

Kasnan bergabung dengan KAS sekitar awal 2019 diajak teman-temannya berkumpul di rumah salah satu anggota KAS, Sudadi (70) warga Kalurahan Plumbon, Kapanewon Temon. Dalam pertemuan tersebut, Kasnan diberitahu perihal KAS. Saat itu Kasnan tahunya KAS organisasi yang fokus dalam kegiatan sosial kemanusiaan dan tidak sedikitpun menyinggung tentang kerajaan maupun janji-janji uang ratusan juta yang bakal diterima anggota. "Karena kemanusiaan itu, saya tertarik bergabung untuk mengisi kegiatan," jelasnya.

Dalam perjalanan waktu, Kasnan bersama sejumlah teman-temannya baru sadar bahwa KAS sebuah kerajaan, dengan Toto Santoso Hadiningrat sebagai pimpinannya. "Saya tahu kalau KAS itu kerajaan saat mengikuti kirab dan deklarasi di Desa Pogung Juru Tengah Kecamatan Bayan, Purworejo awal Januari 2020 lalu," tuturnya. 

Kasnan mengungkapkan, selama bergabung di KAS dirinya telah mengeluarkan uang jutaan rupiah. Untuk pendaftaran Rp 1,5 juta dan membeli seragam 'dinas' sebesar Rp 2 juta rupiah. "Belum termasuk iuran dan biaya operasional, kami tanggung sendiri," ujarnya mengaku uang yang disetorkan ke KAS merupakan uang hasil pinjaman.

Pasca terungkapnya KAS sebagai kerajaan palsu dan kini kasusnya ditangani pihak Kepolisian, Kasnan pun mengaku sakit hati dan berjanji tidak akan pernah bergabung dengan organisasi serupa lagi. "Peristiwa yang menimpa saya merupakan musibah dan saya tidak akan menuntut siapa-siapa," jelasnya mengimbau masyarakat luas untuk memetik peristiwa yang dialaminya sebagai pelajaran berharga sehingga tidak ikut terjerumus.

Menindaklanjuti adanya warga Kulonprogo yang pernah bergabung di KAS, jajaran Polres Kulonprogo telah melakukan pendataan terhadap sejumlah warga yang terindikasi terlibat KAS. Untuk sementara polisi baru mengidentifiksi satu nama, yakni Sudadi.

"Yang terpantau di Kulonprogo baru SDD yang berperan mempengaruhi dan mengajak warga lain, yang lainnya masih kami data," kata Kapolres setempat AKBP Tartono menegaskan kendati Sudadi berperan mempengaruhi warga lain untuk gabung ke KAS, tapi statusnya tetap korban.

"Sebab Sudadi tak tahu jika KAS akan berujung pada kasus hukum," jelasnya mengimbau masyarakat Kulonrogo tidak terpengaruh iming-iming jabatan, materi dan pangkat yang dijanjikan organisasi semacam KAS. 

Masyarakat diminta selalu waspada terhadap kegiatan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) ilegal meskipun kemunculan Keraton Agung Sejagat (KAS) di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, telah ditangani kepolisian. 

Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Kulonprogo Budi Hartono yang ditemui di ruang kerjanya, akhir pekan ini, menyatakan pasca kemunculan KAS di Purworejo, meningkatkan pemantauan kegiatan masyarakat di wilayahnya. Ketentraman dan ketertiban tetap terjaga kondusif di Kulonprogo. "Meskipun demikian meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kegiatan yang dapat menimbulkan keresahan," ujar Budi Hartono. 

Menurutnya, diminta berhati-hati mengikuti kegiatan Ormas di tengah masyarakat. Ormas yang dapat melaksanakan kegiatan dengan melibatkan masyarakat harus memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). 

Baca Juga: Geledah Keraton Agung Sejagat, Polisi Temukan Ini

Untuk menciptakan ketentraman di masyarakat, katanya, Kesbangpol sudah meminta keterangan ke sejumlah orang asal Kulonprogo yang menghadiri acara peresmian KAS. Yang hadir pada acara tersebut di antaranya pernah aktif dalam kegiatan organisasi Dec-Yogyakarta di  2014 silam.

"Mereka mengaku termasuk menjadi korban peresmian KAS. Untuk acara terebut ada yang membayar iuran sekitar Rp 3,5 juta untuk seragam pada acara peresmian," tuturnya. 

Dikatakan, di Kuloprogo keanggotaan Dec-Yogyakarta diperkirakan mencapai ratusan orang karena kepengurusan di setiap wilayah desa berjenjang, minimal empat orang.(Rul/M-4/Ras)

BERITA REKOMENDASI