Geblek Jajanan Khas Disuka Sepanjang Masa

Editor: Ivan Aditya

BAGI warga asli Kulonprogo nama Geblek sudah tidak asing lagi, karena makanan ini merupakan jajanan khas daerah lereng Menoreh tersebut. Jajanan yang terbuat dari pathi tela atau pohung ini enak sebagai camilan sambil minum teh atau kopi, baik pagi atau sore hari. Akan lebih nikmat lagi bila dimakan bersama tempe benguk, baik berupa baceman atau sengek.

Dalam perkembangannya, kini Geblek tidak hanya ditemukan di wilayah Kulonprogo, namun di luar pun kini bermunculan penjual jajanan rakyat tersebut di beberapa tempat. Salah satunya Sarjani (65) warga Gamplong 3, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, isterinya Surami yang kebetulan asli Kokap, Kulonprogo kini membuka warung atau lapak di rumah dan di pasar Jomblang setiap pasaran Pon dan Kliwon.

“Saya mulai menjual Geblek sejak tahun 1997, bersama gorengan yang lain seperti cemplon, lenthuk, pisang, bakwan, tahu dan tempe mendoan,” ungkapnya Senin (04/01/2021) di Pasar Jomblang, Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman di sela melayani pembeli.

Tidak mengherankan lapaknya di pasar selalu ramai dikerubuti pembeli, karena menyediakan jajanan khas Geblek yang bisa dimakan selagi masih hangat. Sarjani setiap harinya menyediakan 30 kilogram pathi tela serta pohung, sebagai bahan pembuat Geblek. Pada hari-hari libur atau Lebaran, hari libur nasional biasanya nambah menjadi 50 kilogram. Harga kulakan pathi tela Rp 10.000/kilogram, sedangkan pohung Rp 4000, langsung dari Kulonprogo atau kalau ada tetangga yang panen pohung disetor kepadanya.

Menurut Sarjani sejak sore hari dirinya bersama isteri selalu menyiapkan bahan pembuatan Geblek, dari mengupas, meramu atau nguleti hingga malam hari pukul 22.00 WIB. Diteruskan pagi menjelang Subuh, untuk menggoreng dan biasanya pukul 06.00 WIB telah siap didasarkan di lapak pasar ketika hari pasaran Pon atau Kliwon dan sekitar pukul 10.00 WIB dagangannya telah habis. Selain jajanan Geblek yang telah digoreng, Sarjani juga menyediakan bungkusan Geblek mentah yang bisa digoreng di rumah atau untuk oleh-oleh.

Setiap harinya, Sarjani mampu menjual 120 bungkus Geblek mentah yang dihargai Rp 5.000 isi sepuluh biji. Sedangkan rata-rata kalau Geblek yang digoreng per biji dijual Rp 500-Rp 1.000, tergantung kebutuhan pembeli. “Saya sudah enjoy menjual jajanan khas ini, karena modal sedikit bisa jalan membuat kehidupan kami sekeluarga nyaman, ” ujarnya.

Diakui, hingga saat ini dirinya belum memanfaatkan modal dari bank atau pihak ketiga, karena kebutuhan bahan serta ubaramnpe masih tercukupi, dan dagangan laris. Meskipun keuntungan kecil, tetapi sempulur alias tidak berhenti membuat dapur tetap ngebul.

Sarjani optimis, dagangannya Geblek sebagai jajanan khas akan terus dilirik orang, karena makanan ini selalu disuka sepanjang masa. Dari balita hingga orang tua, senang menyantap jajanan Geblek karena rasa khasnya yang renyah, gurih. Lebih nikmat bila disantap bersama tempe benguk, sembari minum teh atau kopi.

“Sampai kapan pun saya tetap berjualan Geblek, sebagai camilan masyarakat. Lebih-lebih Pasar Jomblang berdekatan dengan obyek wisata Gamplong Studio Alam sehingga pada hari Sabtu dan Minggu selalu diampiri wisatawan yang memadati papan plesiran tersebut,” katanya. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI