Geblek Trempos Inovasi Sutinah, Laris Manis di Pasar Cublak

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Geblek merupakan makanan khas warga Kabupaten Kulonprogo. Saking ‘melegenda’nya, pasangan Bupati-Wabup Kulonprogo waktu itu DR (HC) dr Hasto Wardoyo SpOG – Drs Sutedjo menetapkan secara resmi geblek sebagai motif batik khas kabupaten ini yakni gebrek renteng.

Masyarakat luas selama ini mengenal bahan baku camilan geblek dari pathi (tepung ketela) berwarna putih kenyal maka Sutinah (51) warga Pedukuhan Sonyo Kalurahan Jatimulyo Kapanewon Girimulyo berinovasi menciptakan varian baru, geblek trempos kalau dimakan bersama besengek atau tempe bacem rasanya semakin nikmat.
“Saya bersama ibu membuat geblek trempos sudah dari 2007 silam,” kata Sutinah, Kamis (28/01/2021).

Diungkapkan, geblek trempos berbeda dengan geblek yang biasa dikonsumsi masyarakat selama ini. Baik dari bahan baku, warna dan rasanya. Jika geblek trempos dibuat dari ampas singkong sementara geblek biasa dari pathi. Demikian juga warna dan rasanya sangat kontras.

“Geblek biasa lebih putih sedangkan geblek trempos kalau sudah mateng warnanya coklat. Kalau geblek biasa agak kenyal tapi kalau geblek trempos lebih empuk dan tahan lama,” tutur Sutinah.

Hanya proses pembuatannya saja yang hampir sama. Bahan baku geblek trempos yakni singkong diparut kemudian diuleni (proses menjadi adonan) untuk mendapatkan sari atau pathinya. Ampasnya (trempos) dipisahkan dan diperas agar tidak ada air lagi.

“Kalau sudah kering, trempos singkongnya di kukus sampai mateng kemudian dicampur dengan pathi dan diuleni sampai benar-benar kalis (lembut tak berair). Proses selanjutnya dipipihkan dan diiris membentuk seperti stik lalu digulung dan dibentuk jadi geblek,” ungkapnya.

Agar rasa geblek trempos lebih enak maka saat menggorengnya di tungku menggunakan kayu bakar. “Kalau pakai kompor tidak kuat menahan beban wajan. Sekali produksi menghabiskan bahan singkong sekitar 40 kilogram dengan hasil produksi 420 buah geblek,” jelas Sutinah.

Sutinah mengakui pangsa pasar geblek trempos produk keluarganya memang masih sangat terbatas di Pasar Cublak Kalurahan Jatimulyo dengan harga Rp 250 pergeblek. “Tidak setiap hari buat, hanya seminggu dua kali, Selasa malam dan Jumat malam. Kecuali ada pesanan, buat tiap hari,” katanya.

Peminat geblek trempos sebenarnya cukup banyak. Hal tersebut terbukti setiap menjual di Pasar Cublak pukul 04.30 dan pukul 06.00 WIB biasanya sudah ludes. (Asrul Sani)

BERITA REKOMENDASI