Geliat Kawasan Industri Sentolo Kulonprogo Terbentur Harga Tanah

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Kabupaten Kulonprogo memiliki keunggulan komparatif, kompetitif dan distingtif sebagai daerah tujuan investasi yang potensial dan strategis di DIY. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kulonprogo mencatat, pada 2017 laju pertumbuhan ekonomi di Kulonprogo 4,64 persen. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita Rp 18.736.661. Pada akhir 2016, keadaan penduduk berdasarkan kelompok umur didominasi kelompok usia produktif 20-59 tahun sebesar 54,94 persen, sehingga menunjukkan efektivitas penduduk yang tinggi.

Dengan akan dibangunnya Bandara Internasional Yogyakarta Baru atau New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulonprogo, diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan perkembangan Jalur Selatan Jawa yang mencakup wilayah DIY hingga kawasan Selatan dan Barat Daya Jawa Tengah.

"Sebagai wilayah yang akses ekonominya terbuka, Kulonprogo sangat kompetitif untuk mengembangkan kawasan industri di bidang pengolahan, perdagangan dan jasa. Kawasan peruntukan industri tersebut seluas 4.796 hektare (ha), meliputi tiga kecamatan yakni Sentolo, Lendah dan Nanggulan yang mencakup delapan desa, yaitu Banguncipto, Sentolo, Salamrejo, Sukoreno, Tuksono, Ngentakrejo, Gulurejo dan sebagian berada di Donomulyo," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kulonprogo Agung Kurniawan SIP MSi, Minggu (18/3/2018).

Sejak dipromosikan 2014, sampai saat ini tercatat 19 perusahaan skala besar membuka usaha di kawasan peruntukan industri tersebut dengan total nilai investasi berdasarkan laporan Desember 2017 mencapai Rp 557.791.432.983, yang terdiri Penanaman Modal Asing (PMA) Rp 60.830.374.000 dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp 496.961.058.983. Investasi asing di kawasan tersebut sebanyak delapan perusahaan, bergerak di sektor industri perlengkapan kulit, tekstil, sarung tangan, bulu mata palsu dan pengolahan limbah bahan berbahaya beracun (B3). Sedangkan perusahaan dalam negeri 11 perusahaan meliputi usaha alat pertanian, arang briket, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE), obat-obatan, kosmetik dan sebagainya.   

"Pada 2015, PT Sentolo Isti Parama sebagai perusahaan pengelola kawasan industri sudah mulai pembebasan tanah seluas 100 ha untuk pembangunan kawasan industri di Desa Banguncipto dan Sentolo. Kawasan industri yang akan mereka kembangkan adalah industri kreatif (handmade) berbasis teknologi ramah lingkungan serta mampu menyerap ribuan tenaga kerja," ujar Agung.

Ditambahkan, pada 2012 Badan Kerja Sama dan Penanaman Modal (BKPM) DIY menyusun kajian master plan Kawasan Industri Sentolo (KIS) di Desa Tuksono. Untuk pengembangan awal seluas 70,2 ha dengan jenis industri yang direncanakan yaitu Aneka Industri (AI) yang bersifat low polutan.

Guna meningkatkan aksesibilitas ke KIS, Pemkab Kulonprogo telah melakukan pelebaran jalan 14 meter serta memperbaiki fasilitas pendukung lainnya. Selain itu, sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN Pusat, pada pertengahan 2018 akan membangun gardu induk berkapasitas 120 MegaWatt di Desa Tuksono, dimana saat ini sedang dalam proses pengadaan lahan.

"Sebagai upaya meningkatkan minat investasi yang prospektif di Kulonprogo, Pemkab melakukan berbagai strategi promosi, di antaranya mengikuti event pameran dan promosi investasi, menyelenggarakan Regional Investment Forum (RIF), forum bisnis kerja sama Indonesia Marketing Asociation (IMA) serta promosi melalui website dan media sosial," ujarnya.

Ketua Pansus I Pembahasan Raperda Perubahan Atas Perda No 1/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah Kabupaten Kulonprogo, Aji Pangaribawa ST mengatakan, sejak ditetapkannya Desa Tuksono sebagai KIS, banyak investor yang tertarik untuk menanamkan investasinya. Sayangnya, langkah pemerintah itu belum diimbangi peningkatan infrastruktur pendukung. Seperti akses jalan speknya belum memenuhi kriteria untuk dilalui kendaraan tronton bermuatan penuh serta belum adanya lampu penerangan jalan. Bahkan review regulasi yang mengatur tata ruang wilayah masih dalam bentuk draf. Kendati demikian, tidak bisa dipungkiri KIS telah berdampak positif. Angka pengangguran berkurang dan kesejahteraan masyarakat setempat meningkat.

"Sentolo sebagai kawasan industri memang sudah masuk dalam Perda RTRW DIY dan Kulonprogo. Dalam perkembangannya untuk menyesuaikan dinamika pembangunan daerah khususnya pembangunan NYIA, maka saat ini Pemkab Kulonprogo sedang mereview Perda RTRW tersebut yan saat ini masih dalam bentuk draft," tegasnya.

Aji Pangaribawa mengakui, memang ada kendala dalam pengembangan KIS. Selain infrastruktur penunjang masih minim, kondisi Jalan Dudukan Sentolo-Ngentakrejo Lendah menuju KIS speknya belum layak dilewati tronton. Tingginya harga tanah di sekitar lokasi tersebut juga jadi persoalan tersendiri. "Selama spek jalannya belum ditingkatkan, maka calon investor masih berpikir ulang berinvestasi di sana. Karena investor punya perhitungan ekonomis dan akses jalan salah satu pertimbangan penting. Dalam upaya menarik investor agar tidak ragu berinvestasi, tidak ada pilihan bagi pemerintah selain meningkatkan spek jalan dan idealnya dicor. Kendala lainnya masalah harga tanah yang tak terkendali. Tingginya harga tanah di KIS perlu solusi sendiri agar investor mau masuk," ujarnya seraya berharap demi kemajuan KIS, Pemda DIY menyetujui review Perda RTRW Kulonprogo.

Di KIS saat ini berdiri tiga pabrik yakni pabrik traktor Quick, pabrik arang dan wig atau rambut palsu. Selain itu ada rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) serta SPBE. Informasinya juga akan berdiri pabrik kosmetik. Dari sekian perusahaan tersebut yang paling dirasakan efek positifnya bagi warga, adalah kehadiran pabrik traktor.

Karena berbagai kendala tersebut, praktis perkembangan Kawasan Industri Sentolo dinilai relatif lambat. "Agar KIS berkembang secara cepat, Pemkab perlu menggandeng pihak swasta mengingat keuangan daerah yang terbatas," tegas Aji.(Wid/Rul)

 

 

BERITA REKOMENDASI