Jadi Tradisi, Warga Trisik Salat Id di Tepi Laut

SAMBIL mengumandangkan takbir, umat Islam Pedukuhan Trisik, Galur, Kulonprogo, Yogyakarta menuju sebuah lahan pasir datar tepi laut, Senin (12/9/2016). Setiba di lahan itu, mereka bergegas menggelar alas dan sajadah untuk bersiap menunaikan Salat Idul Adha 1437 H. Pagi hari ini merupakan momentum menggembirakan bagi seluruh umat di Trisik karena telah tiba perayaan hari raya kurban yang dinanti-nanti.

Kecuali berkurban hewan ternak, bisa melaksanakan salat Id di tepi laut adalah kebahagiaan yang tak terhingga dan khusus. Diakui para jamaah, salat Id di tepi laut mampu menghadirkan rasa tertentu yang sangat menyentuh kalbu. Alasannya, saat menyimak ayat-ayat suci yang dilantukan imam, debur ombak dan angin pun cukup jelas terdengar. Lantunan ayat suci, ombak dan angin, membuat suasana peribadatan makin sakral.

"Suasananya sungguh beda dengan salat di tengah keramaian kota. Mendengar suara ombak, berasa makin dekat dengan Allah dan alamNya. Bahagia sekaligus haru. Kalau di tempat lain, yang terdengar mungkin suara mesin kendaraan yang melintas ketika kita salat. Saya baru kali ini salat Id di tepi laut. Kebetulan saya pas ikut suami untuk menjenguk keluarga sekaligus liburan di Trisik," ungkap Susan (36) seorang jamaah.

Pelaksanaan salat Id di tepi laut, baik Idul Adha maupun Idul Fitri di Trisik ternyata sudah berlangsung lama. Pak Gandung (56), warga setempat menuturkan, kegiatan salat Id, telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Para pendahulu sepakat untuk membuat tempat salat Id di salah satu lahan tepi laut. Pertimbangannya karena sangat jauh bila harus bergabung dengan jamaah lain di lapangan Banaran yang jaraknya mencapai 5 km dari pesisir.

"Penyelenggaraan salat Id di lapangan pasir dekat laut ini sudah ada sejak saya masih anak-anak. Sampai sekarang tetap dipertahankan karena kebersihan cukup. Jarak bagi warga muslim pedukuhan Trisik juga terbilang dekat. Tidak ingat tahun berapa diawalinya. Salat di sini terasa sangat menyatu dengan alam. Meski mendengar ombak dan angin, kami tetap khusuk," ujar Gandung. (Aya)

BERITA REKOMENDASI