Jumlah ODGJ di Kulonprogo Tertinggi se-DIY

Editor: Ivan Aditya

KULONPROGO, KRJOGJA.com – Kulonprogo ternyata kabupaten atau daerah dengan jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kondisi tersebut menjadikan DIY tertinggi tingkat nasional. Berdasarkan laporan yang masuk Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat pada 2020 jumlah ODGJ mencapai 1.725 orang.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) menilai keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) berpotensi menambah jumlah penderita gangguan jiwa di wilayah tersebut. Di antaranya karena merasa tertekan dan tersingkir akibat banyaknya pendatang dan perkembangan wilayah serta kehilangan sawah dan ladang sebagai mata pencaharian akibat pembangunan.

“Di Kapanewon Temon, jumlah penderita gangguan jiwanya juga tinggi,” kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Setda Kulonprogo, Drs Jazil Ambar Was’an dalam workshop Implementasi Perbup Kulonprogo nomor 85/ 2021 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan dan Pengendalian Kesehatan Jiwa Kulonprogo yang diadakan Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY) di Joglo TP Kalurahan Karangsari Kapanewon Pengasih, Rabu (29/06/2022).

Keberadaan YIA ungkapnya memicu banyaknya pendatang sehingga warga lokal yang tidak siap akan merasa tersingkir dan tertekan. Menghadapi kenyataan tersebut ungkap Jazil Ambar, Pemkab Kulonprogo tidak berpangku tangan dan berupaya maksimal mengatasi persoalan yang terjadi.

Upaya pendampingan telah dilakukan, bekerjasama dengan YAKKUM selama lima tahun. Meski demikian, upaya ini memerlukan kerjasama semua stakeholder dengan peran sesuai tugas dan kewenangan masing-masing. Termasuk kalau memungkinkan, pemerintah kalurahan juga diminta mengalokasikan anggaran sehingga setiap pertemuan menjadi media sosialisasi tentang kesehatan jiwa di masyarakat.

“Kendala sebenarnya ada di lingkungan terdekat pasien, mulai dari keluarga dan tetangga. Ketika ada yang mengalami gangguan jiwa justru disembunyikan atau diasingkan,” tuturnya.

Sementara itu Manajer Proyek Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat, PRY, Siswaningtyas menjelaskan, pada 2022 tercatat dua kapanewon dengan ODGJ tertinggi di Kulonprogo yakni Pengasih dengan 204 pasien dan Galur 203 Pasien. Sementara kapanewon terendah Samigaluh dengan 71 pasien ODGJ berat dan Girimulyo 72 pasien.

“Dengan adanya RAD, maka pencegahan dan pengendalian kesehatan jiwa bisa dilakukan secara komperehensif. Deteksi dini akan dilakukan sehingga penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin,” jelasnya.

Dalam RAD, pihak terkait bisa memberikan layanan medis dan rehabilitas sosial. Tapi yang paling penting mengurangi stigma gangguan jiwa di masyarakat. ODGJ bisa pulih dan sehat kembali dengan disertai pendekatan sosial. Sebab penanganan ODGJ tidak hanya pengobatan, tapi perlu dukungan dari orang-orang terdekat.

“Dengan RAD, kami targetkan jumlah ODGJ di kabupaten ini bisa menurun. Tapi tentu dibarengi dengan penambahan layanan pengobatan medis serta pendampingan dan dukungan dari keluarga dan masyarakat,” tegas Siswaningtyas.

Sedangkan Kepala Puskesmas Pengasih 2, dr Salamah mengusulkan perlunya penyediaan shelter bagi para pasien ODGJ yang sudah mulai membaik. “Dengan adanya shelter maka upaya penyembuhan pasien ODGJ akan semakin konkrit. Fasilitas tersebut sebaiknya dilengkapi petugas untuk pendampingan, sehingga mereka bisa punya kegiatan atau pekerjaan sesuai keterampilan masing-masing,” ujarnya. (Rul)

BERITA REKOMENDASI